Kisah Djarot Sahabat Ahok Sampai Menjadi Gubernur DKI
Kisah Djarot Sahabat Ahok Sampai Menjadi Gubernur DKI - Presiden Joko Widodo sudah melantik Djarot Saiful Hidayat sebagai Gubernur definitif DKI Jakarta untuk sisa periode 2012-2017, pada hari Kamis (16/7/2017).
Menurut Djarot, pengangkatannya sebagai Gubernur definitif tidak lepas dari kenegarawanan Pak Ahok. Selanjutnya, kata Djarot, Ahok lebih mementingkan kepentingan pemerintahan dibandingkan dirinya sendiri. Hal yang dimaksud Djarot yakni percepatan penuntasan pembangunan di DKI Jakarta pada sisa jabatan 2012-2017. Situs Resmi Sbobet
Apakah pengangkatan Djarot sebagai Gubernur DKI definitif merupakan imbas dari keputusan Ahok yang membatalkan upaya banding penasehat hukumnya (22/5/2017) dan mengajukan pengunduran dirinya sebagai Gubernur DKI kepada presiden (23/5/2017). Menurut penulis, keputusan Ahok itu, di samping alasan lainnya, mungkin dimaksudkan agar sahabatnya (Djarot) itu mendapat kesempatan mengukir sejarah sebagai Gubernur DKI Jakarta yang ke – 18. Hal itu dapat dilihat dari rentetan peristiwa berikut ini.
Pada saat dijenguk oleh Djarot di Mako Brimob, Selasa (16/5/2017), Ahok menyampaikan pesan secara pribadi kepada Djarot. Ia meminta Djarot pindah ke rumah dinas gubernur DKI di Taman Suropati, Jakarta Pusat. Alasannya, agar lebih dekat dengan Balai Kota DKI. Di samping itu diharapkan koordinasi dan kerjan Djarot semakin maksimal di rumah dinas gubernur daripada di rumah dinas wakil gubernur yang berada di Jalan Besakih, Kuningan, Jakarta Selatan. Malam harinya, setelah pulang dari menjenguk Ahok, Djarot dan keluarga mulai pindah ke rumah dinas gubernur, seperti yang disarankan oleh Ahok.
Selanjutnya Djarot juga mengatakan, Ahok telah mempercayakan kepadanya untuk memimpin Jakarta hingga Oktober. “Sudah saya percaya sama Mas Djarot-lah, selamat bekerja,” kata Djarot menirukan ucapan Ahok.
Rencana Ahok untuk mundur dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta ternyata telah disampaikan sebelumnya kepada Djarot.Keputusan Ahok mengundurkan diri, kata Djarot, karena dia tidak ingin lagi ada pro dan kontra yang berkembang di masyarakat. Apalagi bulan suci Ramadhan sudah berada di depan mata. “Saya sudah ketemu sama beliau (Ahok) dan beliau sudah menyatakan : “sudahlah untuk menjaga situasi bulan puasa, supaya tidak ada pro kontra sudah saya mundur saja, nanti Mas Djarot yang nerusin,” kata Djarot menirukan ucapan Ahok di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (26/5/2017). “Dan beliau meminta untuk itu segera diproses secepatnya,” ujarnya.
Bagi Ahok, Djarot bukan saja sebagai wakilnya (bawahan) di pemerintahan Prov. DKI Jakarta, tetapi juga sebagai sahabat, baik dikala senang maupun susah. Begitu pula sebaliknya. Seperti kata orang bijak :“ sahabat sejati ialah orang yang selalu berada di samping kita, disaat kita di landa rasa susah maupun senang.” Fakta berikut ini merupakan bukti kalau persahabatan mereka adalah persahabatan sejati.
Persahabatan Ahok dan Djarot, berawal dari perjalanan mereka dalam sebuah rombongan ke Tiongkok pada tahun 2006. “Habis makan malam, kami pulang ke hotel, enggak kelayapan. Begitu pulang belanja juga, kalau (anggota rombongan) yang lain bisa berapa puluh (ribu) US dollar. Ini enggak ada duitnya juga sama kayak saya, belinya yang murah-murah,” kata Ahok dalam acara “Rosi dan Kandidat Pemimpin Jakarta” yang diadakan di Djakarta Theater, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat (2/4/2017).
Acara itu sendiri awalnya direncanakan sebagai acara debat antara pasangan calon cagub cawagub DKI Jakarta 2017. Namun pasangan calon nomor pemilihan tiga, Anies – Sandi tidak hadir ketika acara dimulai. Agen Bola Online
Kejadian di Tiongkok itu membuat Ahok “jatuh cinta” kepada Djarot. Ahok yakin Djarot merupakan orang yang jujur. Akhirnya, Ahok mengajak Djarot berbicara. “Ini orang jujur, bukan orang yang hidupnya mau cari duit, tapi mau urusin orang,” ujar Ahok. Setelah itu, giliran Djarot yang menceritakan alasan dirinya tertarik dengan ajakan Ahok. Djarot mengatakan awalnya dia tertarik karena Ahok berhasil menang pada Pilkada di Belitung Timur, padahal seperti diketahui, mayoritas penduduk di Belitung Timur beragama Islam. “Lalu setelah dia jadi, seluruh anggota DPRD ditantang sama dia ketika menolak kebijakan. “Aku bilang gila juga ini orang, gila positif. Berani benar orang ini,” ujar Djarot.Setelah sudah menjadi wakil gubernur mendampingi Ahok untuk membenahi Jakarta, Djarot mengaku dirinya semakin bisa melihat karakter positif yang ada pada diri Ahok. Djarot mengatakan, Ahok memiliki hati yang bersih.
Ahok dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta (19/11/2014) menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi Presiden RI. Walaupun Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta yang oleh Perppu nomor 1 tahun 2014 diberikan kewenangan untuk menentukan sendiri calon wagubnya atas persetujuan presiden, namun mengingat bahwa yang digantikannya adalah Jokowi yang merupakan kader PDIP, Ahok memberikan kesempatan kepada PDIP untuk mengajukan kadernya sebagai calon wakil gubernur. Akan tetapi ketika PDIP mengajukan Boy Sadikin, langsung ditolak mentah – mentah oleh Ahok. Dia menghendaki PDIP mengajukan Djarot yang pada saat itu masih menjadi anggota DPR dari Fraksi PDIP. Akhirnya Ibu Mega/PDIP memberikan restu kepada Djarot sebagai wakil gubernur mendampingi Ahok. Setelah mendapat restu, Djarot dilantik oleh Ahok di Balai Agung, Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2014).
Pada awal Januari 2016 Boy Sadikin mengundurkan diri sebagai Ketua DPD PDIP Jakarta. serupa terjadi ketika Ahok akan maju sebagai calon gubernur DKI pada pilkada 2017 – 2022. Ahok kembali ngotot meminta kepada Ibu Mega/PDIP merekomendasikan Djarot sebagai pasangannya. Ketidak setujuan Boy Sadikin atas dukungan PDIP kepada pasangan calon Ahok – Djarot diwujudkan dalam bentuk pengunduran dirinya dari PDIP dan bergabung ke partai Gerindra. Dia bergabung dengan dengan tim sukses Anies – Sandi.
Keakraban Ahok – Djarot dapat disaksikan dari video dengan judul “Kreatif!! bottle flip challenge ahok djarot kalah cium tangan bikin ngakak” yang sempat menjadi viral di Youtube.Di video tersebut Ahok tanpa sungkan mencium tangan Djarot karena kalah, sesuai kesepakatan mereka sebelumnya.
Moment lainnya yang menunjukan keakraban mereka, dapat dilihat dari video di Youtube yang berjudul “Ahok VS Djarot – Salah Passing Boleh, Salah Pilih?? Jangan!!”
Djarot juga telah menunjukan bahwa dia adalah sahabat setia dari Ahok. Fakta – fakta berikut ini membuktikan hal itu.
Pada masa kampanye pilkada yang lalu di saat Ahok harus bolak balik menghadiri sidang pengadilan, Djarot tetap semangat melakukan blusukan (kampanye) sendiri ke berbagai wilayah, walaupun dibeberapa wilayah dia mengalami penolakan/penghadangan bahkan pengusiran. Tercatat sedikitnya ada 5 wilayah dimana Djarot mengalami penghadangan, yaitu : Petamburan, Kembangan Utara, Cipinang, Jalan Bangka dan Sawah Besar. Perlakuan tidak menyenangkan juga dialami Djarot ketika menghadiri acara haul Soeharto di Masjid At-Tin, TMII, Jakarta Timur. Djarot sempat tertahan di pintu VVIP karena ditolak warga. “Usir, larang masuk, musyrik, munafik,” demikian teriakan-teriakan warga yang menolak kehadiran Djarot. Perlakuan serupa juga dialami Djarot ketika ia shalat jumat di Masjid Jami Al-Atiq di Tebet, Jakarta Selatan. Beberapa jemaah dan takmir masjid berteriak meminta Djarot secepatnya keluar dari kawasan masjid sambil mengucap takbir. Djarot juga mendapat penolakan dari warga saat menghadiri pengajian di Jalan Kramat Lontar, Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Padahal pengajian tersebut diselenggarakan oleh Majelis Taklim An-Nisaa.
Ketika Ahok divonis 2 tahun dan langsung masuk, hanya selang sehari setelah vonis hakim (9/5/2017), Djarot langsung mengajukan surat permohonan jaminan penangguhan penahanan terhadap Ahok. Bahkan dia menyatakan kesediaannya menggatikan Ahok di penjara. Dia yakin Ahok bisa diajak kerja sama dan tidak akan menghilangkan barang bukti. “Tidak mungkin Pak Ahok kemudian tidak kooperatif. Tidak mungkin menghilangkan barang bukti,” ujar Djarot, saat ditemui di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (9/5/2017).
Djarot menilai Gubernur non-aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) diperlakukan tidak adil usai mendapat vonis hakim dalam kasus penodaan agama. “Saya tidak bisa terima dia (Ahok) diperlakukan seperti seorang kriminal, begitu di-dor (divonis bersalah), langsung masuk tahanan. Ini sangat tidak manusiawi, seakan-akan yang dia lakukan selama ini tidak ada harganya,” ujar Djarot di Ancol, Jakarta Utara, Selasa (16/5/2017). “Terus terang saja secara pribadi saya geram, Pak Ahok itu sudah banyak melakukan tindakan-tindakan yang positif. Saya tahu betul kerjanya luar biasa. Pulang kantor jam 21.00, jam 22.00, itupun masih membawa berkas,” ucap Djarot. Bandar Casino Terpercaya
Djarot masih menganggap Ahok sebagai rekan kerjanya di sisa masa jabatan hingga Oktober 2017 mendatang. Djarot mengatakan, ia akan rutin melapor ke Ahok soal kebijakan Pemprov DKI. Hal itu diungkapkan seusai menjenguk Ahok di Mako Brimob tanggal 16/5/2017. Oleh karenanya usai dilantik, Djarot langsung bergegas ke Mako Brimob, Kelapa Dua Depok untuk menemui Ahok setelah sebelumnya sempat ke Balai Kota. Djarot mengatakan, kedatangannya untuk menemui Ahok untuk berdiskusi terkait dengan permasalahan Jakarta.
Walaupun Djarot telah berstatus gubernur tetap tidak mengurangi rasa hormatnya kepada Ahok yang saat ini telah berstatus sebagai narapidana.
Itulah Djarot, sahabat setia Ahok. Selamat Berjuang.

Tidak ada komentar