Header Ads

Saat Menteri Susi Membahas Isu Reshuffle Dan Demo, Ada Saja Yang Kena Getah nya

Saat Menteri Susi Membahas Isu Reshuffle Dan Demo, Ada Saja Yang Kena Getah nya - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti adalah salah satu dari menteri kabinet pemerintahan Jokowi yang memiliki prestasi bagus. Bahkan termasuk salah satu menteri terbaik karena gebrakan dan aksinya yang berani, seperti meledakkan kapal asing yang masuk tanpa izin, hingga meningkatkan hasil perikanan Indonesia. Pokoknya tenggelamkan. Selesai.



Tapi beberapa waktu lalu, muncul kabar Presiden Jokowi berencana melakukan reshuffle kabinet. Nah, di sanalah ada nama Susi yang kerap dirumorkan akan menjadi salah satu korbannya. Entah siapa yang pertama kali mengembuskan isu ini, yang jelas polemik kian rumit ketika muncul isu lainnya yakni larangan penggunaan cantrang. Susi melarang penggunaan cantrang karena dapat menghabisi persedian ikan jika tidak dikontrol. Agen Sbobet Online

Akan tetapi, larangan ini malah balik menyerang dirinya, bahkan hampir terpojok, sempat didemo dan akhirnya menarik kembali larangan tersebut hingga akhir tahun ini. Susi tidak terlalu ambil pusing dengan isu cantrang yang menyerang dirinya. Susi yakin yang memprotes larangan penggunaan cantrang itu bukan nelayan kecil, melainkan digoreng oleh segelintir pengusaha kapal ikan saja. “Sekarang yang kapal-kapal cantrang besar itu 30 GT (gross ton) ke atas, itu kapalnya ada 700-an, itu pemiliknya cuma 48 orang,” ujar Susi dalam acara “#SusiDiRosi” di Kompas TV, seperti dikutip Kompas.com.

Saya masih ingat dulu ada seorang akademisi dari universitas yang saya sudah lupa namanya, dia melakukan studi kajian mengenai cantrang ini. Hasilnya nelayan kecil sebenarnya mendukung larangan penggunaan cantrang, karena merugikan mereka. Mereka senang dengan kebijakan ini. Kesimpulan dari kajian itu adalah yang menggunakan cantrang adalah kapal berukuran sedang ke atas. Jadi pernyataan Susi ini ada benarnya.

Susi melanjutkan, sebanyak 48 orang itu bukan orang-orang sembarangan. Mereka didominasi pejabat dan pengusaha besar. “Pemiliknya ada bupati, wakil bupati, bekas anggota DPRD. Banyak pejabat juga yang punya (kapal cantrang),” ujar dia.

Maka dari itu, Susi merasa tidak heran jika isu ini dibakar hingga besar. Demo protes kebijakan larangan cantrang pun seolah-olah sangat serius, padahal menurutnya demo tersebut dipolitisasi. Setiap ada isu adanya reshuffle kabinet, selalu ada demo yang menentang kebijakannya. “Setiap tahun ada isu reshuffle, ada demo. Tahun lalu juga sama. Tiap kali ada reshuffle, tiap kali ada demo. Jadi biasa saja. Menteri lain juga didemo, biasa saja,” ujar Susi. Agen Bola Online

Jadi sesuai dengan komentar Susi, ada pihak yang tidak senang dengan kebijakannya, lalu melakukan tindakan lanjutan untuk menghentikan langkahnya. Ini bukan pola yang baru, melainkan sebuah protokol yang lumrah di negeri yang konon dihuni banyak tikus, mafia, begal anggaran dan koruptor. Mereka semua meski labelnya beda tapi punya persamaan yang mendasar yaitu doyan duit. Begitu ladang penghasilannya terganggu, maka orang yang menjadi penyebabnya harus segera disingkirkan, tak peduli meski cara mereka menghasilkan duit adalah dengan menabrak peraturan.

Demo dipolitisasi, yah saya rasa orang cerdas di sini sudah tidak heran, hari gini demo murni karena memang mau demo? Ada sih, tapi itu hanya sedikit persentasenya, sisanya you know lah. Ada embel-embel itunya. Lihat saja aksi tiga angka dari sejak 411 hingga sekarang. Polanya terlihat kok, sangat jelas malah. Isu yang sebenarnya kecil dibesar-besarkan dengan cara demo. Jadi didemonya Susi soal cantrang membuktikan bahwa ada orang yang tak senang. Lebih tepatnya orang jujur dan lurus di negeri ini selalu akan diserang.

Lihat saja aksi 411 dan 212 sebagai contoh. Luar biasa besar demonya. Karena satu orang saja, hanya gara-gara itu saja. Terlalu aneh. Padahal ada kasus korupsi Al Quran tapi tidak pernah demo segila itu. Hanya karena satu ayat, demonya berbulan-bulan, tapi anggaran kitab suci ditilep, mereka pada bungkam pura-pura tak melihat. Wajar tidak kalau banyak unsur politisasi di balik demo seperti itu?

Apa yang terjadi pada Ahok, bisa saja terjadi pada siapa pun, termasuk Susi. Bukan hal yang aneh kalau tikus pada gerah dan kepanasan tiap kali ada orang yang bekerja dengan benar. Mereka dianggap perusak dan wajib dibasmi. Dibasmi dengan cara pembunuhan karakter atau minimal menurunkan kredibilitas melalui berbagai isu. Tepatnya isu yang dipaksa-paksakan supaya heboh. Dibikin demo, diliput media dan ditambah komentar tolol pasukan sumbu pendek, jadi besar isu tersebut. Bandar Casino Terpercaya

Sesungguhnya orang-orang seperti Ahok, Susi, Jokowi dll selalu duduk di kursi berpaku setiap saat. Maksudnya selalu tidak nyaman, setiap waktu selalu digoyang isu. Waktu kadang dihabiskan untuk mengurusi sampah-sampah model begini. Tak bisa kerja maksimal, terus diganggu seperti orang tua yang anaknya terus rewel dan merengek tiap menit.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.