Bangga Akan Piala Kebersihan Adipura, Walikota Depok Gelar Arak-Arakan Keliling Kota
Bangga Akan Piala Kebersihan Adipura, Walikota Depok Gelar Arak-Arakan Keliling Kota - Baru-baru ini, Pemerintah Kota Depok berhasil meraih Piala Adipura karena dinilai berhasil dalam menjaga kebersihan serta pengelolaan lingkungan. Karena begitu senang dan bangganya menerima Piala Adipura, Wali Kota Depok Idris Abdul Somad dan Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriyatna langsung menggelar arak-arakan keliling kota pada Rabu siang. Agen Sbobet Online
Piala Adipura ini memang menjadi kebanggaan Pemkot Depok karena sudah dicita-citakan sejak Kota ini berdiri tahun 1999. Kebanggaan pertama kali ini membuat Pemkot Depok mengadakan arak-arakan keliling. Arak-arakan ini tidak hanya diramaikan oleh aparatur sipil Pemkot Depok tetapi juga para pelajar yang dikerahkan sekolah untuk meramaikan arak-arakan.
Meski menerima Piala Adipura, ada cerita pahit dibalik prestasi membanggakan Pemkot Depok ini. Ya, ada sekelumit kisah pahit yang dialami oleh para pejuang jalanan yang menjadi pendukung utama didapatkannya Piala Adipura ini. Dibalik kebanggaan Piala Adipura ini ada fakta upah kecil yang diterima oleh para penyapu jalan.
Harapan para penyapu jalan yang dikenal dengan sebutan “pesapon” untuk mendapatkan kenaikan upah pun kandas karena Pemkot Depok tidak bersedia menaikkan upah mereka. Alasan Pemkot Depok tidak menaikkan upah karena dikhawatirkan akan ada tuntutan yang sama dari para petugas harian lepas instansi lainnya.
Lalu apa yang kemudian dijadikan alasan paling MAKJLEB yang disampaikan oleh Pemkot Depok?? Ya, Pemkot Depok akhirnya memberikan sebuah penguatan kepada para penyapu jalanan bahwa pekerjaan mereka bukan hanya mendapatkan gaji tetapi juga pahala.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok Etty Suryahati menyatakan dia telah menyampaikan hal itu kepada para penyapu jalan.
“Saya terus menyampaikan bahwa membersihkan sampah adalah sarana mencari pahala. Jadi tidak hanya mencari rezeki tapi juga mencari pahala,” kata Etty di Balai Kota Depok, Rabu (2/8/2017).
Mendengar kata “pahala” saya pun jadi teringat kebiasaan salah satu partai yang selalu membawa istilah-istiilah keagamaan untuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam menyelesaikan masalah perkotaan. Ya, partai apalagi yang saya maksudkan kalau bukan Partai PKS.
Dan memang benar saja, pasangan Wali Kota Depok Idris Abdul Somad dan Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriyatna ini didukung oleh duo partai koplak yang juga berhasil memenangkan Pilkada Jakarta. Walikota Idris dan wakilnya diusung oleh Partai PKS dan Gerindra. Agen Bola Online
Pantas saja kalimat pembelaannya bernuansa rohani tetapi tidak memberikan solusi waras untuk kepahitan upah kecil yang dialami oleh para penyapu jalan. alasan bodoh dan tidak intelek ini hanyalah bukti ketidakmampuan mereka menyediakan upah yang layak bagi para penyapu jalan.
Padahal faktanya, mereka berkerja 6 hari kerja, dengan jatah libur sehari antara Sabtu atau Minggu. Dimana setiap harinya bekerja selama 8 jam, tepatnya dari pukul 05.30-13.30. Dengan waktu berkerja seperti itu, para pesapon hanya mendapatkan gaji per harinya Rp 80.000. Jika dikalikan dengan 26 hari kerja, maka mereka maksimal mendapatkan upah Rp 2.080.000 (sebulan 30 hari).
Upah tersebut sangat jauh dari upah minimum kota (UMK) Depok tahun 2017 yang nilainya mencapai Rp 3,3 juta. Apalagi, menurut pengakuan salah satu penyapu jalan, upah mereka ini masih mendapatkan potongan untuk angsuran asuransi BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Belum lagi, jika harus izin atau sakit, maka jumlah hari kerja para anggota pesapon tidak genap 26 hari.
“Biasa dapatnya Rp 1.972.000. Tapi tergantung harinya,” ujar salah seorang anggota pesapon, Yani (45).
Pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok Etty Suryahati bahwa para penyapu jalan dapat pahal sebenarnya tidaklah salah. Tetapi sangat tidak tepat kalau hal itu dijadikan alasan untuk menyatakan ketidaksanggupan mereka menaikkan upah penyapu jalan. Memangnya perkerjaan lain tidak dapat pahala juga??
Pertanyaan penting lagi adalah, apakah pahala bisa digunakan sebagai alat transaksi jual beli?? Kalau bisa, saya yakin para penyapu jalan tersebut tidak akan meminta kenaikkan gaji. Mereka meminta kenaikkan gaji pastilah jelas bukan karena mereka kekurangan “penghasilan pahala” melainkan karena upah segitu tidaklah cukup hidup di Kota Depok yang UMKnya mencapai Rp 3,3 juta.
Miris memang kalau melihat pemimpin sebuah daerah sangat jauh hati dan nuraninya melihat orang-orang kecil. Tidak seperti Jokowi dan Ahok yang memperjuangkan nasib mereka. Bayangkan saja, saat masih dijabat Gubernur Jokowi dan Wakil Gubernur Ahok, gaji penyapu jalan langsung disesuaikan dengan UMP.
Hal tersebut disampaikan Ahok di hadapan ribuan tukang sapu saat buka puasa bersama di Monas, Jumat (19/7/2013). Kebijakan ini berlaku bagi petugas kebersihan yang berstatus honorer dan pekerja lepas.
“Semua pasti ada perhitungannya. Untuk pekerja lepas dihitung jika ia bekerja. Jika absen tidak ada bayaran. Tapi kalau yang bersangkutan rajin maka perhitungannya akan sesuai dengan UMP,” tandas Ahok.
Memang jadi repot semua Kepala Daerah gara-gara Jokowi-Ahok. Standar semuanya ditolokukurkan dengan apa yang telah mereka lakukan di DKI Jakarta. Standar yang sebenarnya adalah sebuah kenormalan tetapi menjadi keanehan karena banyaknya kepala daerah tidak mampu mengelola daerahnya. Bandar Casino Terpercaya

Tidak ada komentar