Setitik Cahaya Yang Keluar Dari Keprihatinan
Setitik Cahaya Yang Keluar Dari Keprihatinan - Demikian dari atas podium seorang dewan guru yang merupakan bagian dari tim tata tertib sekolah memanggilku keluar dari barisan untuk berdiri di depan seluruh peserta upacara pagi itu. Saat itu ia tengah menggalakkan ketertiban para siswa dalam berpenampilan di sekolah. Seperti mengenakan badge sesuai dengan tingkat kelas, mengenakan kaus kaki sesuai standar, memiliki potongan rambut rapi (laki-laki), mengenakan sepatu berwarna hitam, memakai dasi sesuai standar ketentuan sekolah, dan sebagainya. Alasan mengapa aku dipanggil ke depan bukan karena aku melanggar salah satu dari ketentuan di atas, melainkan karena aku adalah salah satu dari segelintir siswa tertib di Sekolah Menengah Pertama Negeri itu. Sebagai anak yang masih berusia 14 tahun aku merasa sangat bangga saat itu, ditunjuk oleh seorang guru untuk menjadi siswa teladan di hadapan seluruh siswa satu sekolah. Momen yang hanya berlangsung selama beberapa menit itu selalu terkenang di kepalaku sampai kini, dan semenjak itu rasanya aku ingin tetap melanjutkan sikap tertibku terhadap tata tertib yang ada dan menjadi teladan untuk orang-orang di sekitarku. Agen Bola Online
Tetapi setelah sekian lama, semakin aku dewasa, semakin aku tersadar bahwa apa yang kulakukan di masa-masa itu (bersekolah dengan penampilan rapi dan mematuhi tata tertib) sama sekali bukanlah sesuatu hal yang hebat apalagi luar biasa. Itu hanyalah hal yang biasa saja, yang memang sudah sewajarnya dilakukan oleh seorang siswa terpelajar di sekolah.
Lalu kenapa aku merasa bangga dan hebat saat mematuhi tata tertib sekolah pada saat itu?
Rasa hebat dan bangga itu muncul karena saat itu memang tidak banyak siswa yang tertib di sekolah. Sebaliknya, lebih banyak siswa yang memilih untuk melanggar tata tertib sekolah. Karenanya aku menjadi salah satu dari segelintir siswa di sekolah yang masih mau mematuhi tata tertib. Itulah yang membuatku beranggapan jika mematuhi tata tertib sekolah (hal yang sebenarnya memang sudah semestinya dilakukan oleh seorang siswa) adalah sesuatu yang luar biasa hebat. Karena pada kenyataannya memang tidak semua siswa mau/mampu untuk melakukannya, pikirku.
Kubayangkan seandainya seluruh atau sebagian besar siswa di sekolah mematuhi tata tertib, maka hal itu (mematuhi tata tertib sekolah) pasti juga akan menjadi hal yang biasa saja, tidak istimewa, tidak hebat. Karena semua atau sebagian besar orangpun juga bisa melakukannya.
Kemudian mengingat sebuah slogan yang sempat diangkat oleh KPK di hari Anti Korupsi sedunia tahun 2012: “BERANI JUJUR HEBAT!”.
Benarkah berani jujur itu hebat?
Seberapa hebat?
Siapa setuju?
Siapa mau menyanggah?
Silakan!
Slogan “BERANI JUJUR HEBAT!” tak lama kemudian memicu sebuah pertanyaan di benakku, apakah di negara lain berani jujur juga dianggap sebagai perbuatan yang hebat? Ataukah hanya dianggap sebagai suatu kewajiban yang memang sudah sewajarnya dan seharusnya dilakukan oleh setiap orang sebagai manusia yang beradab, beragama, berTuhan, dan berhati nurani? Agen Sbobet Online
Pada dasarnya, siapa orang yang mau menjadi korban ketidakjujuran? Tidak ada! Semua orang pasti ingin selalu mendapatkan kejujuran dari siapapun. Namun itu bukan berarti kemudian semua orang juga mau untuk memberikan kejujuran kepada sesama mereka oleh karena beberapa alasan. Alasan itu bisa berupa nama baik, keuntungan finansial, ataupun sebuah kepuasan secara psikis.
Bahkan tidak cukup sampai di situ, orang-orang yang merasa belum memperoleh kepuasan dengan cara melakukannya sendiri, tak segan-segan untuk merangkul (bahkan memaksa) yang lain untuk ikut bergabung mewujudkan ketidakjujuran seperti yang sudah ada di kepalanya.
Itulah yang tengah terjadi di negara ini. Kejujuran yang semestinya menjadi standar minimal dari nilai mutu kita sebagai manusia beragama kini menjadi mahal, dipandang begitu berharga, dan juga sangat langka di negeri ini. Oleh karena berbagai keuntungan yang ditawarkan, maka banyak orang menjadi terpikat dan kemudian memilih untuk menjadi penipu sekaligus pengkhianat di tempatnya.
Di Indonesia, siapa yang berani jujur, itu sama artinya berani menjadi ancaman bagi rencana para penipu, yang tidak lama kemudian pasti juga akan segera mencari jalan untuk menyingkirkan hambatan itu.
Di Indonesia, jujur itu beresiko besar. Siapa yang berani jujur, siap-siap saja masuk penjara, difitnah, diteror, dijebak, disingkirkan dari suatu sistem, disiram air keras, atau bahkan dimusnahkan oleh komplotan penipu yang sudah merasa terusik.
Di Indonesia, masih banyak orang menganggap berani jujur sebagai tindakan sok suci, sok alim dan tindakan dari orang-orang yang siap terisolasi dari komunitas yang memiliki budaya kompromi terhadap kejujuran.
Di Indonesia, sangat mungkin bagi seorang yang jujur merasa tertekan.
Di Indonesia, ada banyak kompetisi yang justru dimenangkan oleh para penipu. Sebaliknya, orang-orang yang jujur sering kali justru kalah atau mendapatkan hasil lebih kecil. Kalaupun ada orang-orang jujur yang menang, itupun bisa dihitung.
Itulah yang kemudian membuat banyak orang enggan untuk berlaku jujur, karena melihat banyaknya masalah, perkara, tantangan yang siap melanda ketika mereka memilih untuk berani jujur.
Mereka lebih sepakat dengan kalimat “Jujur Bakal Ajur” yang artinya siapa yang berlaku jujur pada akhirnya akan menuai kehancuran. Dan itulah yang sampai kini terjadi, karena memang pemandangan seperti itulah yang kerap dilihat, diamati, dan kemudian direferensikan oleh masyarakat Indonesia. Bandar Casino Terpercaya
Maka dari itulah, di Indonesia, siapa yang masih tetap berani jujur, HEBAT!
BENAR-BENAR HEBAT!
Keadaan yang memprihatinkan telah melahirkan slogan.
Slogan yang berisikan sebuah pandangan.
Pandangan yang masih tertanam sampai dengan entah kapan.
Karena kondisi kejujuran di Indonesia yang begitu memprihatinkan.

Tidak ada komentar