Dunia Politik Saat Ini Dapat Dikategorikan Sebagai Film
Dunia Politik Saat Ini Dapat Dikategorikan Sebagai Film - “A leader is a dealer in hope” – Napoleon Bonaparte
Begitulah kalimat yang pernah dilontarkan oleh salah satu pemimpin revolusioner yang pernah dimiliki Perancis. Kalimat tersebut dapat dikatakan sebagai asa rakyat yang bergantung kepada seorang pemimpin, untuk membawa mereka menjadi lebih baik di masa depan. Pilkada DKI 2017 telah usai dan sangat menggemparkan. Tampaknya unsur SARA masih terus dibawa-bawa hingga Pilpres 2019 nanti, suatu unsur yang sangat laris ‘dijual’ di Indonesia.
Dunia politik adalah ‘pentas drama’ yang merupakan ‘tontonan’ menarik bagi warga sipil. Hal tersebut juga dapat menjadi sumber inspirasi pembuatan film sebagai kreasi ekspresif serta refleksi dari dunia nyata, baik fiktif maupun yang diangkat dari peristiwa nyata. Penyajian bertemakan pemilihan seorang pemimpin daerah, negara atau suatu organisasi telah banyak direalisasikan melalui sejumlah film. Film secara tidak langsung menyoroti dunia politik tentang seorang pemimpin, seakan-akan dapat membuka ‘mata’ kita akan ‘permainan’ tingkat tinggi dengan memanfaatkan segala kekuasaan dan kekuatan yang ada. Situs Resmi Sbobet
Berbagai nilai ideologi serta ambisi, moralitas, karir dan kekuasaan, mungkin saja dapat merubah karakter seorang pemimpin dalam perjalanannya. Hal yang terpenting adalah kita setidaknya bisa mempelajari apa itu politik dan bagaimana kita bisa melihat penerapan strateginya melalui jendela film. Saya hanya ingin memberikan sedikit referensi beberapa film terpilih berkenaan dengan kepempimpinan dalam dunia politik, yang saya rangkum di bawah ini. Cerita film diambil dari berbagai sumber.
Di kategori pertama dalam menuju tangga kepemimpinan, menceritakan adanya kandidat baru sebagai calon pemimpin dan umumnya publik tidak mengetahui persis apa yang akan terjadi setelah seorang kandidat menjadi seorang pemimpin, apakah bisa merealisasikan berbagai janjinya atau malah sebaliknya. Faktor kepercayaan publik dan sedikit ‘keberuntungan’ mungkin bisa menolongnya. Kisah perjalanan untuk menjadi calon pemimpin dengan adanya keseimbangan antara nilai-nilai ideologi dan kemanusiaan, seperti yang dicontohkan melalui film The Candidate (1972), yang mengisahkan seorang pengacara muda yang idealis dan karismatik, putera seorang mantan gubernur, berhadapan dengan kandidat kuat dari partai lain. Terjadi pergumulan moral, integritas, ambisi, finansial antara visi dan pesan dari hati nuraninya dengan para sponsornya. Ditambah dengan ketidakterlibatan ayahnya dalam proses kampanye.
Jika kita mengendus hal yang mencurigakan akan seseorang menjadi wakil rakyat, maka film Power (1986) menjadi rekomendasi untuk ditonton. Film yang menceritakan tentang seorang konsultan media yang diajak seorang pebisnis yang menjadi calon senator, dalam rangka mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pendahulunya. Namun ia mengalami konflik dengan seorang humas dari calon senator tersebut, sehingga ia mulai menyelidiki dan menyadap segala aktivitas dari calon senator yang dimaksud.
Bagaimana jika sebuah film menyajikan perspektif dari kedua tokoh kandidat presiden? Hal tersebut dapat ditonton lewat film The Best Man (1964). Sedangkan film The Man (1972), mengangkat isu rasial tentang seorang kulit hitam secara temporer diangkat menjadi presiden, setelah musibah tewasnya presiden dan wakil presiden yang jatuh sakit. Isu usia dalam mengkampanyekan kepada generasi yang lebih muda dalam berpolitik, juga diangkat di film Wild in the Streets (1968), ketika seorang pemuda pemimpin salah satu rock band mencalonkan salah satu pengikutnya ke dalam pemilihan senat.
Penekanan akan kisah cinta dan pembuktian diri ada di film karya Woody Allen, Bananas (1971), yang mengisahkan seorang aktivis politik yang menjadi presiden di Amerika Latin setelah ada penggulingan kekuasaan dan ketika kembali ke New York, ia harus mencari dukungan finansial untuk negaranya dan merebut hati seorang wanita yang pernah menolaknya. Satu suara memiliki pengaruh luar biasa dalam menentukan pemenang. Film Swing Vote (2008), menekankan pendekatan kedua calon presiden dalam mempengaruhi seorang warga sipil dalam memperebutkan satu suara yang tersisa. Agen Bola Online
Lain dulu lain sekarang, adalah transformasi seseorang ketika menuju kekuasaan dan tragisnya menjadi ‘budak’ korupsi seperti dalam film All The King’s Men (1949) dan remakenya di tahun 2006, tentang seorang pengacara ambisius yang membela kepentingan publik yang akhirnya menjadi gubernur, malah menjadi seorang yang korup dan menghadapi berbagai masalah berkaitan dengan seorang jurnalis, keluarganya, perselingkuhannya dan seorang hakim yang mendakwanya. Senada, film State of the Union (1948), menceritakan seorang pengusaha menjadi kandidat presiden yang dikhawatirkan oleh partai dalam kampanyenya malah tidak sesuai dengan kepentingan publik ditambah dengan lecutan sang istri yang mengutuk politisi yang korup.
Bagaimana rasanya jika seseorang berada di posisi yang selalu ia kritik sebelumnya? Jawabannya ada di film Man of the Year (2006). Idealisme, memiliki cita-cita agung guna memajukan negara dan kesejahteraan rakyat, harus berhadapan dengan permainan kotor dari konspirasi berbagai pihak, seperti film The Ides of March (2011), The Contender (2000) dan Election (1999). Sedangkan konspirasi dan tindak kriminal di dalam pemerintahan berkenaan dengan calon pemimpin masa depan, tersaji di film The Manchurian Candidate (1962) dan remake nya di tahun 2004.
Namun, diperlukan sosok pahlawan ideal yang menentang kriminalisasi politik yang disajikan dalam film Mr. Smith Goes To Washington (1939). Smith seorang idealis muda, dipilih oleh gubernur korup untuk dijadikan ‘boneka’ dalam posisi menggantikan seorang senator yang meninggal. Namun Smith justru membalikkan keadaaan dan menentang korupsi. Atau seorang penipu yang ingin memanfaatkan uang kampanye dengan berpura-pura mencalonkan diri dalam pemilihan kongres, kemudian dicurangi oleh lawan politiknya dan akhirnya melawan balik –tergerak oleh hati nuraninya- dengan ilmu tipuannya di film The Distinguished Gentleman (1992).
Ujian yang lebih berat hadir di kategori kedua. Meski pada periode pertama kepemimpinan berlangsung sesuai harapan publik, maka periode selanjutnya jika terpilih kembali, ada tiga kemungkinan : lebih baik dari sebelumnya, konsisten atau lebih buruk. Lawan politik selalu memanfaatkan kesalahan seorang gubernur, dengan berbagai trik kotor dan ‘menciptakan’ tokoh baru, yang bersaing dalam pemilihan pemimpin untuk periode selanjutnya, tersaji di film The Campaign (2012). Adapun manipulasi dahsyat akan terciptanya skenario perang dengan Albania, yang melibatkan seorang profesional dan produser Hollywood, untuk menutupi dan mengalihkan skandal seks sang presiden, hadir dalam komedi hitam karya Barry Levinson, Wag the Dog (1997). Masih dengan formula sama, Bulworth (1998) menyajikan bagaimana skenario dirancang oleh seorang senator pecandu alkohol dan narkoba, frustasi dengan kondisi keuangan dan pamor yang turun, sepakat dengan perusahaan asuransi yang akan mensponsorinya dan pembunuh bayaran yang akan membunuhnya.
Kemudian, suatu peristiwa heboh dan terbesar sekaligus terkelam sepanjang sejarah konstitusi Amerika Serikat, yakni skandal Watergate yang hadir dalam film All The President’s Men (1976), sebuah drama thriller karya Alan J. Pakula yang fokus pada peristiwa setelah pembobolan di kantor Komite Nasional Demokratik dan Nixon terpilih kembali sebagai presiden. Inti dari kasus yang didalangi oleh Nixon sendiri adalah : pemerasan, penyuapan, pencucian uang, sabotase proses pemilihan presiden, kegiatan mata-mata, penipuan, pemalsuan dan pembobolan, memainkan ‘trik yang kotor’ dan ‘menyerang’ para tokoh garis depan partai lawan, serta manipulasi suara dalam pemilu. Pencegahan dan penyesatkan investigasi dari peristiwa pembobolan. Berbagai bukti dimusnahkan, sumpah palsu di pengadilan, informasi palsu, investigasi dihalangi dan menahan panggilan pengadilan. Film lainnya yang berkaitan yakni Nixon (1995), sebuah drama biografi epik tentang Richard Nixon, serta Frost/Nixon (2008), film dokumenter imitasi yang fokus pada wawancara jurnalis Inggris, David Frost dengan Richard Nixon, setelah skandal Watergate terungkap. Bandar Casino Terpercaya
Film-film tersebut kiranya dapat ‘membuka’ mata audiens sebagai ‘representasi’ publik, tentang bagaimana kondisi politik kepemimpinan selalu dinamis dan menghadirkan berbagai gejolak. Artikel ini hanya sekedar referensi akan cerminan kehidupan nyata politik, agar publik lebih bijak dalam memilih kandidat pemimpin. Bagaimanapun film adalah bagian dari hiburan, dan permainan adalah bagian dari politik, namun bukan berarti politik itu menjijikkan.

Tidak ada komentar