Saat Kata-Kata "Kafir" Menjadi Pilihan Bagi Kaum Bumi Datar Untuk Memenangkan Suatu Argumentasi
Saat Kata-Kata "Kafir" Menjadi Pilihan Bagi Kaum Bumi Datar Untuk Memenangkan Suatu Argumentasi - Seorang sahabat WAG (sebut saja Kang Asep) mengirim pengalamannya ketika diajak–lebih tepatnya dipaksa– oleh temannya (Kang Dadap)– untuk menghadiri pengajian seorang ustadz. Meski berkali-kali menolak, namun akhirnya luluh juga hati Kang Asep demi menyimak setiap tetesan hikmah yang ditaburkan sang ustadz. Agen Sbobet Online
Kendati sengaja duduk paling pojok, Kang Asep dengan khusyu menyimak setiap uraian dari sang ustadz, sebut saja Abu Wayad. Sampailah pada pembahasan mengenai tanda hitam di jidat sebagai ciri orang saleh. Ustadz Abu Wayad begitu menggebu dan menegaskan bahwa salah satu kesalehan seseorang adalah tanda hitam di dahinya.
Ustadz Abu Wayad merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Fat:29 pada kalimat terakhir “…tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari atsarus-sujud (bekas sujud)”.
Setelah mempersilahkan jemaah untuk bertanya, Kang Asep yang terus tersenyum dikulum kala mendengar uraian sang ustadz akhirnya tidak tahan juga untuk mengangkat tangan. Tidak saja Ustadz Abu Wayad yang agak tersentak, hampir seluruh jemaah yang hadir pun terkejut, saat melihat seorang yang duduk di pojok masjid tiba-tiba memecahkan keheningan.
“Kata ustadz, ciri kesalehan adalah jidat hitam di dahi sebagai tanda banyak sujud…”
“Iya benar,,,,” timpal Abu Wayad.
“Berarti ustadz memilih istri yang tidak sholehah dong…!” Kang Asep meneruskan sembari bibir tersungging.
“Kok bisa begitu…?!”. Nada sang ustadz mulai meninggi
“Sebab, kemarin saya berpapasan dengan istri ustadz, tetapi dahinya tidak hitam…!”
Psikologis sang ustadz begitu terguncang dan benar-benar serasa ditampar oleh seorang asing, yang tiba-tiba nongol untuk menodai kekhusyukan pengajian yang selama ini tidak pernah ada protes atau pertanyaan yang begitu kejam dan mengiris hati, sekaligus melukai harga diri di hadapan para jemaah setianya.
Belum sempat menyodorkan argumentasi, Kang Asep sudah diusir.
“Anda tidak boleh lagi mengikuti pengajian saya….!”
Apa yang dapat kita petik dari pengalaman Kang Asep di atas?
Tidak lain adalah “klaim (merasa) paling benar sendiri” yang kerap digemakan oleh sebagian ustadz atau yang dianggap ustadz, manakala mereka menyampaikan suatu ayat atau riwayat pada para pendengarnya. Dan biasanya para pendengar atau lebih tepatnya para pengikut ustadz model Abu Wayad, akan menularkan sikap dan keyakinannya terhadap orang yang tidak sepemahaman dengan mereka.
Namun, pada saat bersamaan para penggenggam sikap “paling benar sendiri” tersebut akan tersentak dan tidak menerima ketika cacat yang ada pada dirinya sendiri diusik. Agen Bola Online
Biasanya sikap keras terhadap orang atau kelompok (mazhab) lain, sedemikian tidak bisa dicerna nalar sehat hatta dalam konteks berdiskusi sekalipun. Karakter khas kaum Abu Wayad dalam diskusi misalnya, kerap menyerang dengan gigih dan tanpa etika sebagaimana seharusnya sebuah diskusi berlangsung. Metode argumentum ad hominem (menyerang lawan bicara bukan berdasarkan isi argumentasinya, melainkan lebih kepada kondisi-pribadi atas dasar kebencian) seringkali mereka lontarkan !
Bahkan kosa kata “munafik”, “musyrik”, “kafir” enteng mereka semburkan saat merasa terdesak dalam proses adu argumentasi.
Dalam taraf dan konteks tertentu, mungkin para pembaca seword kerapkali mengalami hal serupa!
Anda bisa membayangkan jika pemahaman paling benar sendiri yang dikampanyekan oleh ustadz berkarakter Abu Wayad di atas, dipeluk dan diyakini oleh suatu komunitas dalam suatu populasi, teramat rentan memicu konflik.
Pengalaman seorang teman lainnya cukup memiriskan. Di daerah tempat tinggalnya, setiap menjelang bulan Ramadhan tiba, selalu diawali dengan pertentangan antar dua kelompok yang berbeda pendapat mengenai berapa rakaat sholat taraweh akan digelar?
Mayoritas warga setempat yang terbiasa menjalankan 23 rakaat, kini mesti berhadapan dengan sebagian kecil pendatang baru yang dikenal keras dalam setiap isi pengajiannya, terutama jika menyinggung perihal fikih dan akidah.
Setelah sukses menancapkan kuku pengaruhnya pada warga lainnya untuk ngotot memperjuangkan sholat taraweh dengan 11 rakaat, maka bibit buit konflik horizontal pun segera menyeruak.
Konflik sempat memuncak dengan diwarnai acungan golok, saat masing-masing kelompok mempertahankan validitas sholat taraweh antara 23 atau 11 rakaat. Demi menghindari konflik menjurus adu fisik, akhirnya para tokoh setempat turun tangan dan terjadilah kompromi. Kelompok warga yang memilih 11 rakaat menggelar sholat di rumah sang ustadz dan info terakhir sudah membangun masjid tersendiri.
Dari kasus tersebut bisa kita simpulkan bahwa kewajiban untuk selalu menjaga Ukhuwah Islamiyah, digugurkan oleh sekedar perbedaan jumlah rakaat sholat taraweh, yang dari segi fikih berkategori sunnah semata !
Teramat banyak contoh kasus yang mencuat lantaran pemaksaan klaim kebenaran sendiri ala Abu Wayad di atas, dengan konteks dan dimensi yang juga berbeda. Lantas bagaimana cara mengatasinya agar kita tidak dibelenggu sikap merasa paling benar sendiri, terutama berkenaan dengan tema-tema yang bersentuhan dengan ranah Agama ?
Karena telah menghunjam kredo bahwa “Agama sebagai way of life (jalan/panduan hidup)”, maka sejatinya tidaklah elok jika Agama yang kita yakini, hanya dipelajari sambil lalu saja.
Sebagaimana mafhum, Agama Islam sebagai rahmat semesta teramat luas cakupan dimensi keilmuannya, maka semestinya terus dipelajari dengan pikiran terbuka untuk menyerap informasi (lebih tepatnya ilmu) dari pelbagai warna dan cakrawala perbedaan penafsiran dari manapun dan dari siapapun. Bandar Casino Terpercaya
Lewat pencerapan beragam cakwarala pemikiran yang intens, maka diharapkan akan menumbuhkan sikap moderat, sekaligus mengenyahkan sikap merasa paling benar sendiri ala Abu Wayad !

Tidak ada komentar