Belajar Untuk Berbagai Sesama Saudara Se-Tanah Air Dengan Pencabutan Subsidi
Belajar Untuk Berbagai Sesama Saudara Se-Tanah Air Dengan Pencabutan Subsidi - Mungkin baru kali ini masyarakat Papua boleh merasakan bahwa mereka bukan anak tiri di negeri sendiri. Setelah 54 tahun berada sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, baru kali ini saudara/i kita di Papua boleh mulai menikmati pembangunan. Pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo, mereka boleh merasakan harga BBM yang sama dengan pulau Jawa. Bayangkan saja, selama puluhan tahun harga BBM di banyak wilayah di Papua bahkan bisa menembus angka 100.000 rupiah/ltr. Padahal tanah mereka kaya, tetapi anak-anak mereka miskin di tanah sendiri. Agen Sbobet Online
Kita harus belajar berbagi dengan mereka, karena fasilitas yang baik yang selama ini kita nikmati adalah buah dari apa yang telah dikelola (Baca: Dirampas? Dicuri?) dari tanah mereka. Pemerintahan dahulu mungkin bisa saja masa bodoh, tetapi pemerintahan kali ini berbeda. Pemerintah terus melakukan pembangunan masif di daerah-daerah luar pulau Jawa. Tujuannya hanya satu, menerjemahkan frasa “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” menjadi sebuah realita.
Hanya bisa berkata-kata dan berwacana saja tidak akan pernah mendatangkan kebaikan yang nyata. Soal tenun kebangsaan, ya harus dikerjakan, jangan hanya bisa diomongkan. Terlalu banyak orang di negeri ini yang hanya bisa bicara, tapi yang sejatinya malah berbagian di dalam mengoyak tenun yang sudah susah-susah dirajut bersama. Kita perlu yang karya dan kerjanya nyata. Membereskan problema-problema yang ada, mulai dari warisan sebelumnya sampai dengan tantangan masa depan yang berdiri di depan mata. Orang yang bisa memiliki komitmen semacam demikian memang orang yang sungguh langka, namun kali ini kita memilikinya, dan orang itu bernama Joko Widodo.
Melalui tubuh yang kurus itu, Pakde yang seorang Jawa, telah menggenjot pembangunan jalan secara masif di Papua. Kenapa saya sebut seorang Jawa? Karena sekalipun berbeda suku, ras dan agama, kita adalah tetap saudara sebangsa. Betul bahwa perencanaan Trans Papua sudah dirancang sedari era Orde Baru, tetapi 70% realisasinya habis-habisan dikerjakan pada masa kepemimpinan beliau, yang bahkan baru berjalan selama 3 tahun, itupun belum genap[1]. Trans Papua yang memiliki panjang 4.330,07 km ini hingga akhir 2016 telah tersambung hingga 3.851,93 km. Itupun belum cukup untuk membuat Presiden puas. Betul, memang kita tidak pantas berpuas ketika kita dan saudara/i kita masih begitu tertinggal di belakang.
Orang-orang Papua yang dari dahulu harus menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki selama berhari-hari, kini dapat menikmati transportasi yang lebih murah. Dengan hadirnya infrastruktur jalan dan harga BBM yang murah, akan ada masa depan yang lebih baik untuk mengubah garis hidup mereka di luar isolasi, kemiskinan dan keterbelakangan. Setidaknya minimal, mengurangi luka dan kapalan di kaki mereka. Dan sekarang, kita diajak untuk berbagian dan peduli pada kondisi mereka, sebagai sesama anak bangsa, sebagai sesama manusia. Melalui pencabutan subsidi listrik kita, kini ada cahaya di rumah-rumah mereka.
Salah satu kabar baik itu datang dari kampung Buleubhe Ayapo, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Setelah menanti selama 24 tahun, akhirnya warga kampung tersebut bisa menikmati apa yang namanya listrik. Jikalau biasanya di pulau Jawa, atau di kota-kota besar, kita mengeluhkan lambatnya layanan internet. Mereka yang berada di Papua baru bisa mencicipi apa itu yang namanya cahaya lampu listrik. Padahal, lokasi kampung tersebut hanya berjarak 2 km dari daerah Yoka, Kota Jayapura, Ibukota Papua[2]. Agen Bola Online
Manager PLN Area Jayapura, John S. Yarangga menyatakan bahwa hingga 24 April 2017, sudah terdapat 40 pelanggan yang mendaftarkan diri, dan baru 17 kepala keluarga yang bisa menikmati manfaat listrik. Sisanya memang masih dalam tahap pengerjaan. Pemerintah Pusat dan Daerah menargetkan bahwa hingga tahun 2020, 80 persen desa di Papua dan Papua Barat sudah harus bisa menikmati manfaat listrik secara serentak.
Saya sangat bersyukur melihat beberapa netizen yang bersuara secara positif terhadap pencabutan subsidi listrik 900v oleh pemerintah. Betul bahwa tagihan listrik kita memang tidak akan seringan sebelumnya. Tetapi setidaknya mereka mengerti bahwa di luar sana masih ada anak-anak negeri yang hidupnya lebih perih.
Saya bersyukur, karena mereka-mereka inilah yang sesungguhnya mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan hanya sekadar retorika belaka. Perlu ada upaya bersama untuk mewujudkannya, dan bahwa “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” adalah bagian dari nilai-nilai kebersamaan itu. Sedangkan mereka yang masih mengeluh sekalipun tetap mampu (apalagi yang nyinyir tiada henti), coba dikirim dulu untuk tinggal di Papua.
Padahal Papua juga merupakan bagian dari bangsa ini. Mereka berhak menikmati hasil pembangunan yang merata. Jikalau sebelumnya pembangunan terus berpusat di pulau Jawa, maka pemerintahan kali ini melakukan pembangunan yang berpusat pada Indonesia. Sebuah arah yang tepat, karena sila kelima berbicara soal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan terciptanya rasa keadilan yang nyata melalui “kerja, kerja dan kerja” Pakde Jokowi, niscaya bangsa kita tidak akan mudah diadudomba. Perpecahan justru mudah timbul ketika keadilan sosial bagi semua vakum di tengah-tengah bangsa kita.
Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword). Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Pakde Jokowi dan segenap jajarannya yang bekerja bahu membahu di dalam menuntaskan pengadaan listrik dan sarana prasarana penunjang lain di Papua. Kami berterima kasih karena perhatian yang Presiden berikan bagi saudara/i kami di sana. Karena sekalipun suku, ras dan agama kami berbeda, mereka tetaplah saudara sebangsa.
Kita kuat ketika kita bersatu memperjuangkan kemajuan bersama. Yang menyedihkan adalah mereka-mereka yang terus mempermasalahkan suku, rasa, etnis dan agama malah yang juga ikut menikmati kemakmuran dari keringat (dan bahkan darah) dari saudara-saudara kita yang bersusah payah. Sudah tidak kerja, maunya nikmat saja, lalu menggangu lagi. Nah, untuk yang seperti ini apa solusinya? Kalau kata Bu Susi, tenggelamkan saja. Bandar Casino Terpercaya

Tidak ada komentar