Header Ads

Tito Karnavian Merupakan Salah Satu Pilihan Tepat Presiden Joko Widodo

Tito Karnavian Merupakan Salah Satu Pilihan Tepat Presiden Joko Widodo - Pada tahun 2016 sempat terjadi polemik ditubuh Polri (Polisi Republik Indonesia) dimana Jokowi yang berniat memilih Komjen (Komisaris Jenderal) Tito Karnavian yang pada saat itu merupakan kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) menjadi pemimpin Polri. Tito yang dianggap terlalu junior tidak pantas menjadi seorang Kapolri karena masih banyak seniornya yang secara etika lebih pantas.



Jokowi yang bersikeras mengangkat Tito menjadi Kapolri pun dengan tegas dan berani membuat keputusan yang cukup kontroversial. Walapupun dilain pihak banyak pengamat yang memberi pendapat bahwa akan ada konflik internal antara Tito dan para seniornya di Polri jika beliau menjadi Kapolri. Agen Sbobet Online

Jokowi yang sadar akan potensi seorang Tito dalam dunia kepolisian dengan gelar Phd nya pun tetap menetapkan Tito Karnavian menjadi Kapolri pada hari Rabu (13/7/2016). Bukan tanpa alasan seorang Jokowi sangat mempercayai seorang Tito Karnavian. Prestasi – prestasi gemilang Tito selama di Polri menunjukan integritas seorang Tito yang ingin mengubah Polri seutuhnya.

Revolusi mental yang Jokowi ingin tunjukan juga berlaku untuk Polri yang dimana Polri sering dicap negatif oleh masyarakat luas. Masyarakat cenderung menganggap Polri sebagai institusi yang koruptif, arogan dan sewenang – wenang terhadap kekuasaannya.

Polri yang sebenarnya diharapkan menjadi sebuah institusi yang dapat melayani masyarakat luas cenderung merugikan masyarakat yang harusnya di layaninya. Inilah tujuan Jokowi mengangkat seorang Tito untuk mengembalikan kedudukan dan kehormatan Polri dimata masyarakat. Setidaknya ada beberapa prestasi besar Polri ditangan Tito Karnavian yang dapat kita lihat dan rasakan.

Kedudukan Polri sebagai pelindung masyarakat dan penegak hukum sesuai aturan yang berlaku pun menjadi kenyataan ditangan “dingin” seorang Tito. Tito seakan ingin menunjukan bahwa “semua sama dimata hukum”. Tidak ada perlakuan khusus terhadap siapapun yang melanggar hukum dan undang – undang di negeri ini.

Tindakan persekusi oleh anggota ormas radikal yang dilakukan kepada seorang dokter di Sumatera Barat dan seorang anak berumur 15 tahun di Jakarta pun tidak luput dari tangan seorang Tito. Tito dengan tegas mengganti Kapolres Solok, Sumatera Barat yang tidak berani memproses pelaku tindak pidana persekusi. Beliau mengigatkan bahwa jika ada anggotanya yang tidak berani memproses hukum para pelaku tindak persekusi ataupun tindak pidana lain maka beliau akan dengan tegas menggantinya dengan orang yang lebih berani.

Tito ingin menunjukan bahwa di negeri ini tidak akan ada yang kebal hukum. Tidak ada yang bisa menghindar ataupun bersembunyi dibalik suatu gelar keagamaan ataupun gelar lainnya jika mereka melakukan suatu tindak pidana yang melangggar hukum.

Salah satu program Polri yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengatasi tindak pidana terorisme yang sering terjadi di negeri ini. Ditangan Tito, Polri berusaha keras mencegah terjadinya segala teror yang mungkin terjadi dengan meminimalisir segala kemungkinan yang ada. Penangkapan para pelaku teror mulai dari para “pengantin” bom bunuh diri dan bahkan pemberi dana pun gencar dilakukan.

Yang menarik disini adalah bagaimana Polri mencoba mencari sumber dana untuk para teroris dalam melakukan aksinya. Polri tidak hanya berkutat pada para eksekutor lapangan tapi juga mencari siapa aktor intelektual ataupun pemberi dana untuk para teroris dalam beraksi. Agen Bola Online

Selain program penanggulangan terorisme, Polri ditangan Tito pun berusaha untuk menangkal segala macam paham radikal yang berpotensi memecah belah bangsa ini. Kita bisa lihat bagaimana tegasnya Polri dalam mengawal segala macam bentuk aksi demonstrasi radikal dengan ujaran kebencian seperti demo – demo seri togel yang tidak jelas urgensinya untuk negeri ini.

Polri pun sudah menegaskan bahwa mereka tidak akan mentolerir segala bentuk ancaman anarkisme dalam demo – demo yang terjadi. Menyampaikan pendapat dimuka umum sah – sah saja asal jangan sampai menganggu masyarakat lainnya. Jika menggangu ataupun anarkis maka tindakan tegas akan diberlakukan bagi para perusuh tersebut.

Tentunya kita semua tahu bahwa KPK dan juga DPR sedang berseteru. DPR dengan pansus angketnya mencoba mencari kesalahan – kesalahan KPK dan bahkan mereka tidak malu menyatakan bahwa tujuan mereka adalah pembubaran KPK.

Ketika ketua KPK bertandang ke Mabes Polri, Jenderal Tito Karnavian pun menerima beliau dengan tangan terbuka dan berjanji akan memberikan bantuan dalam mengungkap kasus korupsi di negeri ini. Tito berharap bahwa kerjasama antara kedua lembaga tetap terjaga dalam melindungi uang negara (sumber).

Ketika tim pansus angket KPK mengunjungi Polri, Tito pun menerima gerombolan para anggota dewan ini dengan tangan terbuka seperti halnya ketika beliau menerima ketua KPK. Gerombolan anggota dewan tersebut meminta Polri untuk mengamankan segala aktivitas tim pansus tersebut. Tito pun menyatakan akan memberikan pengamanan kepada setiap anggota dewan tersebut karena sudah tugas polisi untuk melindungi warga negara Indonesia (sumber).

Dari sikap yang ditunjukan seorang Tito, kita bisa melihat bahwa beliau bersikap netral terhadap dua institusi yang sedang berseteru tersebut. Pernyataan Tito lebih bersifat normatif tanpa ada keberpihakan terhadap salah satu institusi. Memang inilah yang Jokowi inginkan dari Polri yaitu sikap netral sehingga semua tetap dalam koridor hukum tanpa adanya intervensi.

Polisi sejak dulu mempunyai citra yang cukup jelek dimata publik karena sikap koruptif, arogan dan sewenang – wenang terhadap kekuasaan. Siapa yang tidak kenal mantan Komisaris Jenderal Susno Duadji yang terlibat kasus korupsi simulator SIM. Dari kasus Susno Duadji ini kita bisa menyimpulkan bahwa didalam tubuh Polri masih ada oknum – oknum yang koruptif.

Ketika Tito menjabat Kapolri, Jokowi pun memerintahkan kepada Tito untuk membentuk tim Satgas Saber Pungli (Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar) yang bertugas mengungkap setiap dugaan pungutan liar yang terjadi baik pungutan kecil maupun besar. Sejak dibentuknya tim Satgas dibawah komando Komisaris Jenderal Dwi Priyatno, tim ini telah mengungkap 856 OTT (Operasi Tangkap Tangan) (sumber).

Masih ingat istri seorang pensiunan Brigadir Jenderal yang menampar petugas bandara Sam Ratulangi, Manado. Tito pun meresponnya dengan sangat elegan ketika berada di bandara yang sama, Tito pun melepas segala benda bersifat logam yang dia kenakan untuk diperiksa sesuai standar yang berlaku. Tito ingin menunjukan bahwa seorang warga negara yang baik harus mentaati setiap hukum dan peraturan yang ada tidak terkecuali seorang Kapolri tanpa adanya sikap arogan dan sewenang – wenang (sumber).

Sangat jelas bahwa Jokowi ingin seorang Tito dapat mereformasi total tubuh Polri dari sikap – sikap koruptif, arogan dan sewenang – wenang. Jokowi ingin Tito mengembalikan citra Polri sebagai pengayom masyarakat dan pemberi keamanan.

Saya rasa pilihan Jokowi sangatlah tepat walaupun Tito jauh lebih junior dari banyak pilihan Jenderal – Jenderal senior lainnya. Jokowi sadar bahwa kesenioran belum tentu menunjukan kapabilitas seseorang dalam memimpin Polri. Saya tidak salah memilih Presiden dan Presiden yang saya pilih tidak salah memilih Kapolri yang hebat. Bandar Casino Terpercaya

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.