Header Ads

Susi Pujiastuti Semakin Diincar Oleh Mafia Perikanan

Susi Pujiastuti Semakin Diincar Oleh Mafia Perikanan - Mudah ditebak, demo yang menentang kebijakan Menteri Susi Pujiastuti kemarin itu rekayasa. Persis yang disebutkan oleh Budi Gunawan, ada kekuatan jahat yang sedang membidik Susi. Mafia perikanan dan perindustrian kelautan mulai mengamuk. Setelah tak mampu membeli Susi seharga lima triliun, kartel perikanan menggunakan cara kekerasan. Menteri dengan kinerja paling cemerlang itu dengan keras mulai digoyang. Agen Bola Online



Susi, menurut hemat saya tidak memiliki tendensi apa-apa dalam politik. Dia sukses, setelah sebelumnya benar-benar berangkat dari bawah. Orang yang menganggap laut sebagai ibunya sendiri. Satu-satunya alasan menerima jabatan KKP adalah demi kesejahteraan nelayan. Ia tahu persis bagaimana kemiskinan mencekik nelayan selama puluhan tahun. Di negeri dengan kekayaan laut melimpah, itu adalah ironi getir. Para pencuri kekayaan laut dibiarkan bebas berkeliaran. Para kartel leluasa membeli regulasi, mengakali hukum. Dan itu terjadi selama berpuluh-puluh tahun.

Kinerja Susi barangkali tidak terlihat dipermukaan. Nilai ekspor RI hanya naik lima persen. Namun ketika mencermati dengan teliti, impor ikan kita turun 70%. Bagaimana mungkin kita impor ikan dalam jumlah demikian besar? Pertanyaan ganjil itu mestinya dijawab pemerintahan sebelumnya. Negara dengan pantai terpanjang, dengan segala kekayaan laut tak terperi, harus mengimpor ikan. Dan di tangan Susi, hanya dalam tempo dua tahun, Indonesia memimpin ekspor ikan di Asia Tenggara. Indonesia mengalahkan Filipina dan Thailand, yang sebelumnya jadi kampiun.

Jika ekspor kita naik tipis dan impor kita minus banyak, padahal Filipina dan Thailand menuju senjakala ekspornya, ke mana tujuan ekspor ikan mereka selama ini? Patut dicurigai, ke negara kitalah selama ini produk kelautan itu masuk. Mereka mencuri ikan di negara kita, sesudah dikemas sedemikian rupa, kemudian dikirimkan kembali kepada kita. Mungkin dengan harga yang lebih mahal. Dengan kata lain, selama ini kita membeli ikan kita sendiri.

Kebodohan itu berakhir di era wonder woman bernama Susi. Apakah ini sebuah glorifikasi? Anggap saja begitu, ia pantas menerimanya. Ketika nama perempuan tamatan SMP itu mencuat, orang-orang mencemoohnya. Keintelekan mereka seolah ternodai dengan munculnya perempuan bertato dan suka merokok itu di jajaran kabinet. Mereka melihat manusia dari bentuk luarnya. Mereka menilai dengan begitu dangkal dan rendah. Namun Susi membalasnya dengan elegan. Dia bekerja sungguh-sungguh. Hasilnya jelas terlihat. Agen Sbobet Online

Upaya menyingkirkan Susi sebenarnya bukan hanya karena persoalan kartel. Soal pencurian ikan dan bisnis hitam. Namun yang tidak disadari banyak orang, karir Susi sengaja hendak dibunuh karena Pilpres 2019 sudah dekat. Nama Susi begitu harum. Ia berpijar terang. Netizen membelanya mati-matian. Nelayan Masalembu (Sumenep, Jawa Timur) sampai mengumpulkan cap jempol darah untuk mendukungnya. Susi adalah calon kuat untuk mengisi bursa capres-cawapres 2019. Dan oleh karena itu, ia harus dijegal.

Siapa pelakunya? Nah ini yang menarik. Siapapun itu, mereka bisa saja kawan atau lawan. Mereka bisa saja di seberang atau dari dalam barisan. Persoalan cantrang, yang sampai menyulut mulut Pigai itu adalah awal dari kemelut yang direkayasa. Susi bukan orang politik. Desakan semacam itu bertujuan untuk membuat kakinya gentar, telinganya berdengung, pandangannya kabur. Dengan tekanan luar biasa, ia bisa saja menghadapi persoalan batin yang berat. Lalu memilih mundur. Meskipun ia memang bukan tipikal perempuan cengeng. Ia lahir dan besar dengan berbagai persoalan hidup dan keluar sebagai pemenang.

Kehilangan seorang Susi mungkin bukan perkara besar, tapi kehilangan simbol pemerintah yang gigih bekerja adalah persoalan serius bagi Indonesia. Di tengah maraknya para mafia, kartel, maling, kita butuh figur panutan. Orang-orang yang bekerja untuk rakyat bukan demi pencitraan, apalagi imbalan uang. Tidak seperti menteri-menteri benalu itu. Seseorang yang telah selesai dengan dirinya. Untuk itulah ia harus diperjuangkan. Jangan biarkan sang idola berjalan sendiri menangkis serangan dari musuh-musuhnya. Para ular beludak yang pandai menjilat dan pasang tampang manis di media.

Susi tidak lahir dari kancah politik, ia putri laut, muncul dari tengah rakyat. Berjalan, tertawa, merokok layaknya jelata. Kita membutuhkan orang yang sudah tak perduli dengan pencitraan. Ia hanya harus dibiarkan bekerja sebaik-baiknya. Sebagai seorang Susi, sebagai putri laut sang idola. Siapapun yang hendak menyingkirkannya dengan rekayasa keji adalah musuh kita bersama. Musuh Indonesia. Bandar Casino Tepercaya

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.