Header Ads

Mahasiswa Sekarang Lebih Mementingkan Masalah Luar Negeri Dibandingkan Dengan Kemajuan NKRI

Mahasiswa Sekarang Lebih Mementingkan Masalah Luar Negeri Dibandingkan Dengan Kemajuan NKRI - Saya sedikit kurang faham dengan aksi mahasiswa akhir-akhir ini. Apalagi terkait dengan aksi solidaritas Al-Aqsa. Memang yang tewas adalah muslim. Tapi, jangan sampai atas nama muslim dan Islam ada hal lainnya yang disampingkan. Persoalan perang Palestina dan Israel, bukan persoalan muslim dan kristen.



Perlu ditegaskan, perang tersebut merupakan perebutan wilayah dan politik. Pada akhirnya, berimbas pada rakyat setempat. Hanya itu. Dalam tulisan ini saya ingin mengkritisi dengan gerakan mahasiswa. Serta saya juga ingin bertanya, kenapa masyarakat seringkali sensitif masalah kemanusiaan yang disangkut pautkan masalah agama? Agen Sbobet Online

Untuk masalah demo Al-Aqso ini, saya melihat sejumlah mahasiswa ikut mengadakan aksi solidaritas. Sedangkan untuk masalah hak angket? Hanya ada satu aksi yang diikutkan puluhan mahasiswa.

Dalam ingatan saya, masih ingat betul sejumlah aksi gegap gempita mahasiswa. Mulai aksi mahasiswa 1960, aksi 98 dan lain sebagainya. Lihatlah, kawanan mahasiswa yang bersatu itu bisa mengubah Indonesia. Mahasiswa yang bersatu itu, tentunya memperjuangan hak dan kepentingan rakyat Indonesia.

Aksi solidaritas untuk Al-Aqso memperjuangan siapa? Negara Indonesia atau bukan? Kita hidup di mana? Di Indonesia atau bukan?

Kalau kita masih hidup di Indonesia, sejumlah aksi tersebut bisa ditukar dengan aksi bagaimana mengurangi kemiskinan, membuka pola pikir masyarakat pedesaan, bagaimana membangun masyarakat dan lain sebagainya. Hal kongrit inilah yang bisa dilakukan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Apakah membela negara mendapatkan pahala? Saya harus menjawab Ya.

Membela negara ini sama dengan jihad. Saya masih ingat tentang peperangan paska kemerdekaan. Di mana tentara sekutu menyerang. Di Surabaya, tentara yang berperang itu dari kalangan santri.

Kembali pada persoalan mahasiswa. Setelah masa emas mahasiswa, saya tidak lagi mendengar tentang kehebatan mahasiswa lagi. Hal terakhir yang saya ingat adalah saat rapat paripurna kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Saat itu, ribuan mahasiswa turun ke jalan menyuarakan untuk penundaan kenaikan BBM.

Menurut Arifin Noor, Masa muda adalah suatu fase dalam siklus dalam kehidupan manusia. Pada Fase ini, manusia berkembangkan yang sifatnya transisional. Pemuda atau generasi mudah jika dikaitkan dengan unsur biologis, bisa dikatakan sebagai pemuda adalah sesorang yang berada di umur 15-30 tahun. Agen Bola Online

Melihat kultur saat ini, pemuda yang bersekolah untuk di daerah perkotaan, pemuda dicekik dengan kegiatan kampus untuk mengejar IPK tertinggi. Di kampus disuguhi oleh tugas-tugas yang berjubel. Tugas kampus seakan menjadi harga mati yang harus selesaikan. Mahasiswa cenderung terkungkung oleh kurikulum yang menelanjangi nalar kritis dan idealisme. Dengan kegiatan-kegiatan kampus, mahasiswa menjadi sinias akademisi. Dengan segala kegiatan perkuliah di perguruan tinggi, seakan tidak mampu lagi mengembangkan kegiatan tri darma perguruan tinggi.

Pascareformasi mahasiswa telah mengalami degradasi nalar kritis dan idealisme yang cukup signifikan. Mahasiswa sudah terlanjur terjebak pada euforia demokrasi yang katanya paling mutakhir. Asumsi lain, mereka aktif di organisasi bersifat “kemayu”, atau keaktifan mereka hanya demi menambah daftar panjang catatan “rekreasi” di atas kertas putih.

Setidaknya, paska berdemo ini ada masukan dan langkah kongret terkait masalah Palestina dan Israel. Memang, berdemo adalah salah satu cara untuk menaikan nama sebuah golongan. Masyarakat yang sekilas lewat saja, tanpa mengetahui latar belakang organisasi tersebut bisa langsung mengetahui. Apalah arti sebuah aksi jika tidak membuat langkah kongrit untuk perubahan?

Aksi solidaritas Palestina dan Israel ini, sudah banyak dilakukan. Bahkan bertahun dilakukan. Namun, sampai detik ini belum ada langkah kongrit. Jangan sampai, memburuknya keadaan Palestina menyalahankan Presiden Jokowi ya?! sebab, pada saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat pun tidak banyak yang dilakukan olehnya.

Mahasiswa yang berdemo atas nama Al-Aqso ini masih cukup sedikit jika dibandingan dengan  total mahasiswa di seluruh Indonesia. Mungkin juga hanya satu persen yang berdemo. Namun, jika ingin membebaskan Palestina, baiknya para mahasiswa ini membantu perdamaian. Tidak usah ada isu komunisme, Islam Liberal, Syar’i atau tidak. Masalah agama biarkan urusan masing-masing pihak. Kalaupun ingin jadi pengingat, ingatkanlah orang terdekat terlebih dahulu.

Tidak usah diposting dan disebarkan luaskan. Pemahaman agama masing-masing orang itu berbeda satu sama lainnya. Tidak usaha merasa memiliki banyak pengetahuan agama, apa yang diketahui ini mungkin saja tidak sama dengan pemahaman yang  Tuhan yang berikan. Bisa saja ajaran Tuhan yang diturunkan terpotong. Sebab, ajaran agama yang kita pelajari seperti sebuah dongeng. Yang dipelajari dari mulut ke mulut. Belajar dari sebuah buku ke buku lainnya. Tanpa bisa mempelajari ajaran dari sumber yang pertama kali menyebarkannya.

Jika hal tersebut bisa diredam, niscaya Indonesia akan kembali indah. Setelah memilihan Gubernur DKI Jakarta, Indonesia terasa cukup gerah. Bukan masalah suhu.

Kasus Ahok – sebutan dari Basuki – yang berujung pada dipenjaranya Ahok, sadar atau tidak, hal tersebut membahayakan nama Indonesia di dunia. Oke, untuk negara Timur Tengah, Indonesia memiliki hubungan yang baik. Namun, untuk maju sebagai Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perlu dukungan dari negara lainnya. Bandar Casino Terpercaya

Buatlah damai kembali Indonesia, jika memang ingin mengkritik, sampaikan dengan baik. Tidak usah ada nama nyingnyir dan menghina. Memojokan dan merendahkan pola pikir yang berbeda. Lihatlah, Presiden Indonesia, telah membangun sejumlah insfrastruktur nyata negeri ini. Tidak malu dengan pencapaian Jokowi yang telah dicapai? Masa, rakyatnya nyinyir hanya masalah geng sebalah kalah?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.