Kekeringan Melanda Gunung Kidul, Sebanyak Tujuh Kecamatan Terkena Dampak Nya
Kekeringan Melanda Gunung Kidul, Sebanyak Tujuh Kecamatan Terkena Dampak Nya - Gunungkidul adalah salah satu kabupaten dalam Propinsi DIY. Kabupaten ini terletak di bagian selatan DIY dengan sebagian besar wilayahnya berbentuk perbukitan. Oleh karena kondisi geografinya yang berbentuk perbukitan, daerah ini menjadi daerah paling potensial mengalami kekeringan setiap tahunnya. Agen Bola Online
Kekeringan yang melanda tahun ini hampir menyapu bersih seluruh kecamatan yang termasuk dalam wilayah administratif kabupaten Gunungkidul. Hanya ada dua kecamatan yang bebas dari kekeringan yakni kecamatan Wonosari dan Saptosari.
Jika mengacu pada data pada tahun lalu, di Wonosari terdapat tiga desa yang mengalami kekeringan saat kemarau. Ketiga desa yang dimaksud yakni; Desa Wunung, Pulutan dan Mulo. Ketiga desa itu dapat mengatasi krisis air setelah memanfaatkan Dana Desa untuk program pemenuhan air bersih.
Untuk saat ini tercatat setidaknya ada tujuh kecamatan di Gunungkidul mengalami krisis air bersih saat musim kemarau. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kabupaten sudah mulai mendistribusikan air bersih ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan sejak Senin (10/7/2017).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Budhi Harjo mengatakan, ketujuh kecamatan yang mengalami kekeringan antara lain Panggang, Purwosari, Tepus, Tanjungsari, Paliyan, Rongkop, dan Girisubo. Dari jumlah tersebut ada 45.230 warga terdampak yang berasal dari 32 desa.
“Kalau dirinci lagi warga terdampak berasal dari 254 dusun dengan jumlah 9.046 kepala keluarga,” kata Budhi kepada wartawan disela-sela pelepasan armada dropping air di Bangsal Sewokoprojo.
Kondisi kekeringan yang melanda daerah Gunungkidul ini ikut dirasakan oleh warga Dusun Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop. Warga kesulitan mendapatkan air bersih. Telaga Banteng yang biasa menjadi sumber air bagi warga pun dalam kondisi kering kerontang.
“Sudah hampir 2 bulan ini Telaga Banteng mulai mengering,” ujar Sukini (56), salah satu warga setempat yang siang itu sedang mengambil air di lubang-lubang kecil telaga, Minggu (16/7/2017).
Tidak hanya dalam kondisi kering kerontang, kondisi permukaan tanah di sekeliling telaga sudah mulai muncul retakan-retakan. Kondisi ini membuat warga berinisiatif menggali lubang di sekitar telaga untuk mencari sisa-sisa air.
Sukini bercerita harus mencari air dengan menggali lubang di telaga karena stok air di wadah penampung air hujan di rumahnya habis. Sementara di Dusun Ngricik tidak ada sumur. Sebab wilayah ini berada di area perbukitan karst.
“Kalau beli air tangki dari swasta kan biayanya mahal,” tuturnya.
Untuk membeli air tangki, kata Sukini, paling tidak warga harus merogoh kocek Rp 120 ribu. Itupun airnya hanya cukup untuk 1 sampai 2 minggu saja. Untuk menyiasatinya, akhirnya sejumlah warga berusaha mencari sisa-sisa air di telaga.
Seorang warga lainnya, Watinah (63) menambahkan, air dari lubang di telaga sebenarnya lebih bagus ketimbang air dari tangki swasta. Sebab air dari lubang telaga tidak mengandung kapur.
“Air dari telaga sini kandungan kapurnya tidak sebanyak dibanding air tangki swasta,” ungkapnya. Agen Sbobet Online
Hanya saja air yang berasal dari lubang di telaga keruh bercampur tanah. Oleh sebab itu, setelah mengambil air di lubang telaga, jerigen dan ember yang berisi air mereka diamkan terlebih dahulu di sekitar telaga. Baru sore harinya mereka ambil, saat airnya mulai jernih.
“Kalau ngambil air pagi, jerigen dan ember kami tinggal, agar air yang keruh mengendap. Nah pas sore baru kami ambil, kan airnya mulai jernih,” pungkasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Desa Pucung, Kecamatan Girisubo, Bambang Untara. Ia mengatakan bahwa wilayahnya masuk daerah yang mengalami kekeringan saat musim kemarau. Memasuki masa pergantian musim ini, sejumlah dusun di Pucung mulai kekurangan air bersih. Dusun-dusun itu diantarannya, Pucung, Wotawati, Ngreyung, Karangtengah dan Bengle.
“Di tempat kami ada sepuluh dusun dan semuanya mengalami krisis air saat kemarau. Tapi untuk sekarang, belum semua dusun mengalami hal itu karena warga masih ada yang memiliki stok dari tandon air hujan,” kata Bambang.
Untuk mengatasi kekurangan air, warga membeli air lewat truk-truk pengangkut air. Ada yang membeli secara patungan, ada juga yang membeli sendiri-sendiri.
Bambang mengungkapkan, harga satu tangki air bersih bervariasi. Hal itu terjadi karena penentuan harga sangat bergantung dengan jarak tempuh dan kondisi medan tempat yang akan dikirimkan air. “Rata-rata satu tangkinya dihargai Rp150.000,” katanya.
Lebih jauh dikatakan Bambang, krisis air yang terjadi dikarenakan di wilayah Pucung sangat minim sumber air. Sementara itu, keberadaan instalasi pipa PDAM belum bisa dimaksimalkan hingga sekarang ini.
Upaya Mengatasi Kekurangan Air
Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menunjukkan setidaknya ada sekitar 143 dusun yang rawan kekeringan di musim kemarau. Oleh karena itu, guna mengantisipasi krisis air, BPBD siap melakukan droping ke daerah-daerah rawan.
Budhi Harjo, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul mengatakan bahwa penyaluran air baru dapat dilakukan bila ada permintaan resmi terkait dengan kebutuhan air. Untuk pelaksanaan dropping, disebutkan bahwa BPBD telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp600 juta. Rencananya setiap hari dilakukan 28 kali penyaluran, dengan rincian di masing-masing kecamatan sebanyak empat kali.
“Guna mendukung program ini, kami siapkan tujuh armada truk pengangkut air untuk menyalurkan ke daerah-daerah terdampak,” ujar Budhi.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Sutaryono menambahkan, untuk proses penyaluran pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan. Namun demikian, BPBD juga masih memberikan kesempatan kepada warga yang mengalami kekeringan untuk mengajukan bantuan.
Hanya, sambung Sutaryono, permintaan tersebut harus dilakukan secara resmi dengan mengajukan permohonan melalui pihak desa maupun dusun setempat. “Semua pengajuan harus dilakukan secara resmi,” katanya.
Ditambahkannya, untuk program penyaluran air bersih, BPBD juga akan melakukan koordinasi dengan pihak swasta. Hal ini dilakukan agar pemberian bantuan dapat efektif sehingga tidak ada tumpang tindih dalam proses penyaluran di satu tempat.
Fenomena kekeringan atau kekurangan air bukan hanya terjadi di Gunungkidul semata. Banyak daerah lainnya yang juga mengalami kondisi yang sama hanya saja belum terekspos. Kebetulan saja Gunungkidul termasuk daerah yang terjangkau pemberitaan sehingga kerap mencuat isunya. Banyak daerah di wilayah Indonesia Timur yang juga sering mengalami kondisi seperti ini.
Mengatasi kekeringan, tidak cukup hanya mengandalkan truk pengangkut air. Menyediakan air bersih saat kekeringan, hanya mengatasi akibat, bukan sebab. Sudah saatnya mempertimbangkan upaya penghijauan dan pelestarian hutan agar bisa menyimpan cadangan air. Selain itu, perlu dipertimbangkan teknik biopori di saat musim hujan. Teknik biopori bisa menyerap air hujan saat musim hujan. Dengan demikian, cadangan air yang tersimpan bisa menjadi mata air baru saat musim kemarau atau kering. Bandar Casino Terpercaya

Tidak ada komentar