Header Ads

Jembatan Sebagai Tenaga Untuk Pembangkit Listrik Pertama Di Indonesia

Jembatan Sebagai Tenaga Untuk Pembangkit Listrik Pertama Di Indonesia - Di Kabupaten Flores Timur Propinsi Nusa Tenggara Timur,  terdapat  selat sempit sepanjang  800 meter yang  memisahkan  Pulau Flores dan Adonara.  Selat ini dinamakan selat Larantuka. Selat Larantuka  terkenal dengan keganasan arus lautnya. Masyarakat  Kota Larantuka (Flores) dan Tanah Merah  (Adonara)  menamainya Aro Gonsalus (Arus Gonsalus).  Keganasan arus Gonsalus dapat disaksikan  langsung dari pinggir pantai. Arusnya  keras, bergerak lurus, kadang  berputar  dan  sewaktu – waktu dapat berubah arah. Ganasnya arus Gonsalus  membuat  masyarakat di dua pulau ini  berhati – hati jika ingin menyeberang.  Alat transportasi yang digunakan yaitu: perahu  motor dan  sampan. Jika menggunakan sampan, warga memanfaatkan daya dorong arus untuk menyeberang. Dibutuhkan keberanian dan insting yang tepat untuk membaca pergerakan arus, memanfaatkan peluang dan memberi sentuhan yang pas pada saat mendayung, sehingga ketika arus laut berubah  arah, sampan yang ditumpangi pun sudah berada di seberang. Agen Sbobet Online



Akhir – akhir ini pemerintah  Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  disibukkan dengan persiapan  pembangunan sebuah  jembatan yang menghubungkan  Pulau Flores dan Adonara. Jembatan tersebut diberi nama Pancasila-Palmerah. Menurut rencana jembatan Pancasila-Palmerah akan  dibangun di selat Larantuka tepatnya di atas arus Gonsalus. Panjang jembatan  800 meter dan lebarnya 15 meter.  Jembatan ini  dilengkapi dengan  turbin yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga arus laut. Jika terealisasi maka Pancasila – Palmerah bakal jadi jembatan penghubung pulau yang  pertama di NTT dan  Jembatan  laut pertama di Indonesia yang dilengkapi turbin pembangkit listrik.

Rencana pemerintah   Propinsi NTT membangun jembatan Pancasila – Palmerah menuai pro dan kontra. Sebagian masyarakat NTT mendukung  namun ada juga yang menolak.  Masyarakat beralasan jembatan tersebut belum waktunya untuk dibangun. Selain persoalan dana, masih banyak pekerjaan dan perbaikan infrastruktur  lain yang perlu menjadi perhatian  pemerintah.  Perkiraan dana yang digunakan untuk pembangunan jembatan Pancasila-Palmerah mencapai  Rp. 5,1 triliun. Sementara APBD NTT untuk tahun 2016 hanya mencapai Rp 3,8 triliun. Hal inilah yang mengundang  berbagai reaksi di kalangan  masyarakat NTT. Namun demikian rencana pembangunan jembatan Pancasila – Palmerah sepertinya semakin mendekati kenyataan.

Pembangunan jembatan Pancasila – Palmerah sebenarnya bukan rencana mendadak. Rencana itu sudah ada dan tertuang dalam rencana tata ruang wilayah Kabupaten Flores Timur pada tahun 2008. Baru setelah kepemimpinan Gubernur NTT saat ini, Drs. Frans Lebu Raya, gagasan membangun jembatan itu muncul kembali. Ide membangun jembatan Pancasila-Palmerah pun semakin diperkuat dengan kesanggupan  PT  Tidal Bridge, Belanda,  yang menawarkan kerjasama baik dalam pembangunan  maupun pembiayaan. Hasil survei yang dilakukan Tidal Bridge sungguh mengejutkan.  Selat Larantuka ternyata menyimpan  potensi arus laut yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Karena itu Tidal Bridge menawarkan pembangunan jembatan yang dilengkapi dengan  turbin yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga arus laut. Agen Bola Online

Arus laut di selat Larantuka memiliki kecepatan antara 4-8 meter per detik. Ini sudah melewati ketentuan yang ditetapkan para ahli. Arus laut dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik apabila  kecepatannya mencapai  2 meter sampai 2,5 meter per detik. Arus selat Larantuka berpotensi menghasilkan energi listrik sampai dengan 300 MW. Sedangkan kebutuhan listrik untuk seluruh Pulau Flores hanya mencapai 92 MW. Karena itu Tidal Bridge tidak ragu menginvestasikan  modalnya untuk membangun jembatan Pancasila-Palmerah yang dilengkapi dengan turbin pembangkit listrik.

Di tengah pro dan kontra pembangunan jembatan Pancasila-Palmerah, kabar baik datang dari  PT Tidal Bridge.  Biaya pembangunan  Jembatan  yang menghubungkan Pulau Flores dan Adonara di Kabupaten Flores Timur ditanggung seluruhnya oleh Pemerintah Belanda, termasuk  pemasangan  turbin pembangkit listrik. Hal ini disampaikan oleh CEO Tidal Brigde dari Belanda, Erik Van Den Eijnden  pada acara pemaparan progres dan desain pembangunan Jembatan Pancasila-Palmerah, pada tanggal 13 Maret 2017. 

Pembangunan jembatan Pancasila-Palmerah merupakan  ide pemerintah propinsi NTT. Dalam perjalanan memperoleh dukungan dari pemerintah  pusat. Pada forum bisnis yang dihadiri pengusaha Indonesia, Belanda dan Presiden Joko Widodo di Den Haag tanggal 22 April 2016 lalu,  disepakati  kerja sama bisnis sektor infrastruktur, agribisnis, energi, dan maritim senilai 600 juta dolar AS. Dari tiga sektor itu, investasi paling besar adalah pembangunan  Jembatan Pancasila Palmerah dan  turbin pembangkit listrik  di Larantuka Kabupaten Flores Timur senilai 400 juta dolar AS. Diperkirakan pembangunan jembatan sudah dapat dilaksanakan  pada akhir tahun 2017 nanti.

Pemerintah Propinsi  NTT  tentu punya alasan   membangun jembatan.   Lancarnya  transportasi di kedua pulau  secara otomatis  berdampak pada sektor perekonomian.  Masyarakat desa di  Pulau Adonara dapat memanfaatkan jembatan untuk menyeberang ke Kota Larantuka,  menjual hasil bumi, membeli kebutuhan hidup serta menyelesaikan berbagai urusan  seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan  kantor dan  lain – lain. Sebaliknya kehadiran jembatan dengan pembangkit listrik dapat menyelesaikan masalah listrik di Kota Larantuka. Namun  beberapa pihak  justru menilai kehadiran jembatan Pancasila-Palmerah tidak memberi keuntungan  apa – apa bagi masyarakat. Bandar Casino Terpercaya

Terlepas dari pro dan kontra, sebagai putera  NTT  penulis berharap direalisasikan atau  tidaknya  pembangunan jembatan Pancasila-Palmerah, tidak mengurangi   semangat  kita untuk  terus membangun NTT yang lebih baik. Jika Pancasila-Palmerah nanti dibangun, sebagai warga negara yang baik mari kita dukung keseluruhan proses pembangunannya. Tetapi jika tidak,  mari kita terima juga dengan lapang dada. Mungkin benar, belum waktunya NTT punya jembatan antar pulau. Mungkin benar, belum waktunya Indonesia punya jembatan yang dilengkapi  pembangkit listrik tenaga arus laut. Anggap saja ini pekerjaan yang tertunda.  Bukan berarti NTT  dan Indonesia tidak bisa mengupayakannya.  Rencana, wacana dan berbagai upaya yang sudah diusahakan selama ini akan  menjadi jejak yang membekas dari generasi ke generasi. Bahwa: di selat Larantuka, di atas arus Gonsalus,  jembatan Palmerah-Pancasila pernah berdiri kokoh  walau hanya sebatas di angan para pendahulu.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.