Header Ads

Anies Tidak Sanggup Melanjutkan Proyek Yang Tengah Dikerjakan Oleh Ahok

Anies Tidak Sanggup Melanjutkan Proyek Yang Tengah Dikerjakan Oleh Ahok - Sebenarnya tidak ada lagi yang menarik dari Gubernur DKI Jakarta Terpilih, Anies Baswedan. Pernyataan-pernyataan, ide-ide, serta gagasan-gagasannya sudah mati gaya. Kalau kita mengikuti cara dan manuver-manuver politiknya, maka semuanya akan mengerucut pada satu kesamaan yaitu kegerakan. Agen Bola Online



Itulah mengapa Anies tidak pusing dan memang tidak punya kharisma untuk bisa (sedikitnya) dihargai oleh Wakil Gubernur Terpilih, Sandiaga Uno. Lihat saja bagaimana ungkapan-ungkapan Sandiaga yang banyak bertebaran di media cetak dan elektronik belakangan ini. Selalu saja menyampaikan sesuatu seolah-olah dia adalah Gubernur DKI Jakarta.

Yang paling terbaru adalah pernyataan Sandiaga yang asal bunyi mengenai program rumah dengan DP 0%. Sandiaga menyatakan bahwa program ini untuk mereka yang punya penghasilan minimal Rp. 7 juta. Pernyataan yang langsung saja diresponi Anies dengan meminta publik melihat website kampanye mereka.

Belum lagi begitu banyaknya program-program asal bunyi yang terus disuarakan Sandiaga yang sepertinya tidak dikomunikasikan terlebih dahulu kepada Anies. Mengapa Sandiaga seperti itu?? Jelas karena Sandiaga tidak begitu respek kepada Anies yang, MUNGKIN SAJA, bagi Sandiaga hanyalah Gubernur boneka. Lah kan Sandiaga awalnya mau jadi Gubernur juga.

Anies seperti yang saya sudah sampaikan dalam tulisan saya sebelumnya sangat cocok menjadi seorang filsuf atau seorang motivator, bukan seorang pemimpin. Anies tidak bisa memimpin tetapi lebih bagus merangkai kata dan beretorika. Hal yang sampai saat ini tidak berubah dalam pandangan saya.

Apalagi kalau kita melihat apa yang dilakukannya ketika dia ingin belajar mengelola sebuah Daerah Ibukota negara. Anies yang merasa perlu belajar malah memilih Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menjadi referensinya dalam memimpin Jakarta nantinya.

Meski selalu saja ada pembelajaran dalam hal terbodoh sekalipun, menurut saya, apa yang dilakukan Anies belajar mengelola Jakarta dari Yogyakarta adalah sebuah kekeliruan. Apalagi kalau Anies ingin menerapkan pengelolaan tanpa relokasi, tidak ada gunanya. Karena Yogyakarta tidaklah punya masalah relokasi yang serumit Jakarta.

Tetapi namanya juga Anies. Dia berpikir bahwa masalah penataan bantaran Jakarta bisa dengan mudah diselesaikan hanya dengan meniru bantaran Kali Winongo di Kampung Ngampilan Kota Yogyakarta. Saya saja hanya dengan melihat foto Anies ini, saya bisa langsung tahu kalau konsep membelakangi sungai menjadi menghadap sungai tidaklah mungkin dilakukan tanpa penggusuran.

Akan sangat sulit Anies bisa melakukan penataan tanpa melakukan relokasi. Mengapa?? Karena mereka ini sudah sangat masuk dalam sungai dan bahkan mengambil lahan-lahan pemerintah. Mereka-mereka inilah yang banyak tidak mau digusur, padahal kenyataannya mereka memakai tanah negara. Agen Sbobet Online

Ketegasan Ahoklah yang membuat pada akhirnya daerah bantaran sungai bisa jauh lebih baik hanya dalam waktu 3 tahun. Lihatlah bagaimana hasilnya.

Jakarta tidak bisa dipimpin tanpa ketegasan. Sudah banyak contohnya dimana para pemimpin di Jakarta hanya bisa mengubah Jakarta dengan sikap tegas dan keras. Kalau gaya lembut-lembut dan menunggu pergerakan tidak akan ada perubahan nyata yang terjadi.

Dan seperti yang saya sampaikan di atas tadi, Anies tidak bakalan bisa mengikuti gaya kepeminpinan Ahok. Itulah mengapa dia menyatakan bahwa dia ogah akan melakukan kepemimpinan seperti yang dilakukan Ahok selama menjadi Gubernur. Selain karena memang gayanya berbeda, Anies juga tidak akan pernah mampu ikuti ritme dan gaya kepemimpinan Ahok.

“Saya tidak akan meneruskan apa yang dikerjakan oleh yang sebelumnya, “ ujar  Anies  saat menggelar syawalan bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di pendapa rumah dinas Wali Kota Yogyakarta, Rabu siang, 19 Juli 2017.

“Jadi saya tidak akan masuk gaya-gaya konfrontatif,” ujar Anies.

“Isinya anda menang saya kalah, atau saya menang anda kalah,” ujarnya.

Pernyataan Anies ini menjadi sebuah pernyataan tidak ada isinya. Kalau ahok isinya mengenai kemenangan dan kekalahan konstitusi dan rakyat, maka ucapan Anies tidak jelas bicara mengenai siapa yang menang dan kalah. Kalau bicaranya mutar-mutar dan beretorika tidak jelas memang pada akhirnya tidak menemukan ujung jelas apa kebenaran dan apa salahnya. Semua bisa dibenarkan dan semua bisa disalahkan.

Itulah yang sangat membedakan Anies dan Ahok. Perbedaan yang membuat Ahok tidak pernah dipecat karena gagal dalam kepemimpinannya, sedangkan Anies harus direshuffle karena lebih banyak omong daripada kerja. Apalagi kalau Anies harus tanding-tanding gaya kepemimpinan Ahok yang sangat detail meneliti APBD, jauh sekali perbedaannya. Lah, Anies saja bisa kecolongan anggaran 23,3 triliun.

Jadi, Anies tidak perlu beretorika kalau dia ogah ikuti gaya kepemimpinan Ahok. Lah, dari gaya kepemimpinan dan kapabilitas kepemimpinan saja jauh sekali jaraknya. Janganlah dulu mengelola Jakarta, kelola saja dulu Wagub terpilih, Sandiaga, yang bicaranya awur-awuran terus. Anies sanggup?? Bandar Casino Terpercaya

Saya takutnya Anies bukan tidak sanggup, tetapi tersandera dana kampanye Rp 70 miliar lebih.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.