Header Ads

Kasus Imam Besar FPI Tidak Termasuk Kriminalisasi Ulama

Kasus Imam Besar FPI Tidak Termasuk Kriminalisasi Ulama - Buntut dari kasus yang menimpa Rizieq membuat banyak pendukungnya pontang-panting minta bantuan. Salah satunya adalah dengan mendesak Komnas HAM untuk mengusut kasus ini yang diyakini mereka sebagai kriminalisasi ulama. Bahkan Komnas HAM diminta pergi ke Arab Saudi untuk menemui Rizieq untuk membahas masalah ini, tapi sayang tidak memungkinkan. Situs Resmi Sbobet



Dan sebuah pernyataan kejutan pun muncul. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan kasus dugaan kriminalisasi terhadap pentolan Rizieq bukan kriminalisasi terhadap ulama. Komisioner SubKomisi Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM Muhammad Nurkhoiron mengatakan kasus Rizieq masih ditangani oleh tim yang dipimpin oleh komisioner lainnya, yakni Natalius Pigai. Pihaknya masih menunggu kesimpulan akhir dari penyelidikan tersebut. Meski demikian, Nurkhoiron mengatakan kasus Rizieq itu bukanlah kriminalisasi terhadap ulama. “Istilah kriminalisasi itu tak boleh mewakili golongan tertentu,” kata dia. “Kriminalisasi Rizieq itu bukan kriminalisasi ulama, karena banyak ulama yang berseberangan dengan pandangan Rizieq.”

Berdasarkan pernyataan tersebut, kemungkinan hasil penyelidikan akan disampaikan pada Juli nanti. Komnas HAM saat ini sedang melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan kriminalisasi terhadap aktivis Islam dan tokoh lainnya seperti Rizieq dan Al Khaththath. Jadi kemungkinan besar hasil laporan akan kita ketahui sehabis lebaran nanti.

Sebenarnya ada satu hal yang ingin saya garis bawahi. Sebelumnya Presidium Alumni 212 meminta Komnas HAM untuk menyampaikan hasil rekomendasi atas penyelidikan mereka terhadap kasus yang disampaikan Presidium tersebut. Namun, lembaga itu masih belum merampungkan penyelidikannya.

Ketua Presidium Alumni 212 Ansufri Idrus Sambo mengaku lelah mendatangi Komnas HAM. Lembaga itu tak kunjung mengeluarkan rekomendasi tentang dugaan pelanggaran HAM terhadap sejumlah ulama yang dinilai Alumni 212 telah dikriminalisasi oleh pemerintah. Rekomendasi itu dibutuhkan untuk menunjukkan adanya dugaan kriminalisasi terhadap ulama. “At least memberikan suatu warning pada rezim, bahwa kita akan melakukan perlawanan,” katanya. Ternyata pada Jumat kemarin, alumni 212 telah melakukan aksi kunjungan yang ke delapan kalinya. Agen Bola Online

Kalau mau dianalisis, mungkin Komnas HAM sedang dan mulai terjepit. Berurusan dengan kelompok sebelah memang sedikit menyulitkan. Sekarang malah Komnas HAM memegang bola panasnya. Hasil rekomedasi ada berkisar dua, yaitu kasus Rizieq adalah kriminalisasi ulama atau bukan kriminalisasi. Jika nantinya Komnas HAM menyatakan bahwa ada unsur kriminalisasi, ini akan dijadikan alasan, dalih atau tameng untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Dari dulu, melalui beberapa kali pernyataan, kelompok ini memang sudah lapar untuk menyerang pemerintah. Jika keluar rekomendasi, maka kita akan lihat lagi aksi-aksi spektakuler terbaru atas nama bela ulama. Sepak terjang mereka sudah tak perlu diragukan, maka jangan sampai lagi mereka bikin ulah versi terbaru. Yang dulu-dulu saja sudah mengundang muak, jangan sampai ditambahi dengan aksi model baru lagi. Capek.

Nah, bagaimana kalau nanti pada akhirnya Komnas HAM menyatakan tak ada unsur kriminalisasi ulama seperti yang tadi dikatakan oleh Komisioner SubKomisi Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM? Akankah para alumni berbalik mendemo Komnas HAM dan malah nanti menuduh pro pada pemerintah? Makanya dengan situasi sekarang, Komnas HAM memegang bola panas, dan pertanyaannya adalah ke arah mana bola panas tersebut akan terlempar?

Alumni 212 juga mungkin sedang dilanda kebingungan. Jika rekomendasi yang keluar ternyata tidak menyebutkan adanya kriminalisasi ulama, maka peluang mereka untuk unjuk gigi kian sempit. Mau pakai cara apalagi? Mau pakai aksi model sebelumnya, rasanya takkan efektif lagi, karena masyarakat sudah bisa menilai, dan pemerintah pasti takkan beri ampun lagi. Jelas-jelas tidak ada unsur kriminalisasi, tapi ngotot lakukan aksi, ini namanya sudah melewati batas. Dan saya pikir mereka juga pikir-pikir kalau mau adakan aksi besar apalagi sang petinggi sedang kabur ke luar negeri entah kapan baru balik. Mereka seperti punya gigi tapi tak ada taringnya lagi. Mau nekat maju, ya silakan saja, tapi saya rasa ini hanya cari penyakit. Bandar Casino Terpercaya

Dulu mereka bisa ngotot melakukan berbagai aksi karena ada alasan yang dijadikan amunisi meski terkesan dipaksakan. Sekarang mereka mulai kehabisan amunisi, dan lagipula momentumnya sudah hilang. Mesin yang dulunya panas dan tokcer, sekarang sudah dingin dan loyo.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.